• Selasa, 9 Agustus 2022

Indonesia Dalam Kompleksitas Kebijakan Fiskal Dan Moneter Untuk Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan

- Selasa, 2 Agustus 2022 | 13:50 WIB
Ilustrasi: Muid/Watyutink.com (Ilustrasi: Muid/Watyutink.com)
Ilustrasi: Muid/Watyutink.com (Ilustrasi: Muid/Watyutink.com)

Dr. YB. Suhartoko, SE., ME

Dosen Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan, dan Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta

Dalam berbagai kesempatan lembaga-lembaga ekonomi internasional  memuji kinerja dan kebijakan ekonomi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara lain, beberapa indikator ekonomi Indonesia masih relatif baik pada masa pemulihan ekonomi ini.

Inflasi Indonesia dan negara G-20 melonjak tajam setelah perang Rusia-Ukraina melambungkan harga komoditas pangan dan energi. Inflasi tahunan Italia pada Juli tahun ini menembus 7,9 persen sementara Jerman 7,5 persen, dan Prancis 6,1 persen. Nilai tengah inflasi negara G 20 pada Juni 2022 sebesar 7,79 persen, sementara Indonesia 4,35 persen pada bulan tersebut.

Berdasarkan data BPS yang dirilis pada bulan Juli 2022, Krisis pangan dan energi global memberikan tekanan kepada inflasi domestik sepanjang tahun 2022, khususnya pada komponen energi yang terus menguat. Inflasi energi akibat krisis global dapat diredam dampaknya melalui kebijakan subsidi pemerintah pada tahun 2022 ini.

Inflasi pangan lebih disebabkan oleh gangguan suplai domestik pada komoditas volatile food akibat kondisi cuaca. Inflasi Indonesia secara year on year (Y on Y) mengalami peningkatan yang persisten sepanjang tahun 2022, namun kondisi tersebut masih relatif terjaga. Hal ini ditunjukkan oleh inflasi inti yang menggambarkan fundamental ekonomi yang masih stabil.

Perkembangan harga global untuk komoditi penting seperti energi, makanan dan pupuk menunjukkan trend peningkatan harga dari juni 2021 sampai dengan Juni 2022.  Berdasarkan rilis World Bank, secara spesifik dari Juni 2021 sampai dengan Juni 2022, indeks harga gandum meningkat dari 285,6 menjadi 459,6 , gula dari 0,38 menjadi 0,42, kedelai dari 614,7 menjadi 737,1  dan urea dari 393,3 menjadi 690,0.

Peningkatan harga yang signifikan untuk komoditi yang sangat diperlukan oleh  industri pengolahan makanan dan pertanian  tentu saja akan mendorong inflasi akibat kenaikan biaya (cost push inflation).

Berbagai peristiwa domestik juga  ikut mendorong inflasi dari sisi penawaran dan permintaan. Dari sisi penawaran  cuaca yang tidak menentu, seperti musim hujan yang berkepanjangan mempunyai andil dalam penurunan produksi cabai dan bawang merah pada berbagai sentra daerah penghasil.

Peristiwa domestik lain yang mendorong peningkatan inflasi adalah Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi  12 persen, Dexlite rata-rata naik sekitar 16 persen, Pertamina Dex rata-rata naik sekitar 20 persen, Gas elpiji 12 kg rata-rata naik sekitar 14 persen. Momen Idul Adha dan libur sekolah pada bulan Juni juga mendorong inflasi dari sisi permintaan (demand pull inflation). Inflasi pada bulan Juli 2022 mencapai 0,64 persen, inflasi tahun kalender (dari Desember 2021 sampai dengan Juli 2022) mencapai 3,85 persen, inflasi yoy mencapai 4,94 persen.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X