• Sabtu, 20 Agustus 2022

Revolusi Budaya Seorang Habib

- Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Beberapa hari yang lalu penulis menghadiri upacara pernikahan putri seorang Habib di Jakarta. Habib ini sangat dihormati dan memiliki jamaah yang cukup banyak, sehingga meskipun hanya mengundang keluarga dan orang terdekat, namun banyak juga yang hadir saat itu. Ada sesuatu yang menurut penulis sangat menarik dalam upacara pernikahan tersebut, karena ada beberapa hal tidak lazim atau tidak biasa terjadi dalam upacara pernikahan komunitas Arab, terutama keluarga Habib.

Hal pertama yang menarik adalah kostum para tamu dan panitia. Tidak semua panitia dan keluarga menggunakan baju gamis dan kopiah dengan watna putih, sebagaimana lazimnya pernikahan yang diselenggarakan oleh keluarga Habib atau kemunitas Arab. Banyak di antara mereka  yang memakai baju batik warna warni. Bahkan di antara tamu perempuan banyak yang mengenakan rok dan tidak pakai jilbab. Yang menarik tamu perempuan yang tidak berjilbab dan hanya mengenakan rok itu berbaur, berbincang santai dan akrab dengan perempuaan yang mengenakan abaya, gamis, khimar dan sejenisnya.  

Hal menarik kedua yang penulis lihat dari upacara ini adalah pembawa acara atau MC dari acara tersebut yang dibawakan oleh perempuan.  Tidak hanya itu, perwakilan keluarga mempelai pria atau keluarga besan yang ditunjuk untuk memberi sambutan juga seorang perempuan (kebetulan ayah pengantin pria sudah almarhum). Ini juga hal yang tidak lazim terjadi pada komunitas Arab atau keluarga Habib yang masih menganggap tabu perempuan berbicara di depan umum, apalagi mewakili keluarga dalam suatu upacara. Ini merupakan tindakan yang sangat tidak lazim dan revolusioner.

Hal menarik ketiga, adalah saat pengucapan ijab kabul pernikahan. Pada saat ijab kabul, Habib yang menjadi wali nikah menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab. Bagi penulis ini bukan sekadar tindakan di luar kelaziman, tetapi ini merupakan revolusi kebudayaan yang sangat radikal. Banyak masyarakat, terutama kaum formalis, merasa afdhol dan lebih islami kalau mengucapkan ijab kabul menggunakan bahasa Arab. Akibatnya, mereka berusaha dan berlatih secara serius agar dapat melafalkan ijab kabul dalam bahasa Arab secara fasih. Tapi pandangan seperti itu kelihatannya tidak berlaku bagi Habib, sehingga dengan tenang dan percaya diri beliau menikahkan putrinya dengan ijab kabul menggunakan bahasa Indonesia.  

Para para tamu yang hadir di tempat itu mungkin tidak merasakan hal-hal yang tidak lazim ini. Atau ada yang merasakan, tapi tidak menaganggap sebagai sesuatu berarti. Mereka menganggap ini hanya suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja. Bagi penulis ini bukan suatu yang kebetulan, tetapi sesuatu yang terjadi kerana adanya suatu missi, yaitu missi transformasi budaya yang dilakukan oleh sang Habib.

Penulis berpendapat demikian karena melihat pemikiran, akhlak dan sikap Habib.  Sejak pertama kali bertemu, penulis sudah melihat adanya sesuatu yang menarik dari Habib ini. Di antara hal menarik tersebut adalah beliau tidak pernah bersikap membeda-bedakan dalam bergaul, bahkan putra-putri beliau dididik untuk cium tangan kepada siapapun yang lebih tua. Tidak perduli dia orang alim atau bukan, dari kelompok jamaah (keturunan Arab) maupun non Arab semua dihormati dengan tulus oleh Habib dan putra-putrinya. Suatu hal yang tidak lazim, ada anak Habib yang mau mencium tangan orang biasa, bahkan rakyat jelata. Bagi penulis tindakan yang kelihatan sederhana ini memiliki makna dalam karena terkait dengan pembentukan akhlak dan keteladanan.

Sikap Habib yang juga menarik adalah, tidak berpandangan formalis dan simbolik dalam beragama. Beliau biasa menerima dan bersalaman dengan tamu lelaki dan perempuan. Bahkan penulis pernah melihat beliau menerima tamu yang mengenakan celana pendek. Semua tamu yang hadir diterima secara terbuka dan tidak dibeda-bedakan. Pejabat maupun rakyat jelata, yang alim maupun yang awam semua diterima dan didudukkan di tempat yang sama, dilayani dan diperlakukan dengan cara yang sama. Semua tamu dapat tertawa lebas dan berdialog secara terbuka tanpa sekat apapun.

Bagi penulis, upacara pernikahan tersebut merupakan momentum revolusi kebudayaan yang dilakukan oleh Habib. Melalui upacara pernikahan ini Habib menyampaikan pesan bahwa pakaian bukan identitas yang menjadi benteng pemisah antar manusia. Pakaian juga bukan menjadi alat untuk mengukur derajat dan kadar keimanan seseorang. Orang yang berpakaian tertentu dianggap imannya atau derajatnya lebih tinggi dari yang lain, sehingga dia berhak menista orang yang dianggap lebih rendah hanya dengan melihat pakaiannya. Pandangan seperti ini kelihatannya tidak ada dalam pikiran Habib. Di sini Habib ingin menunjukkan, apapun bentuk pakaian seseorang tidak menghalangi mereka untuk berinterasi dan bergaul.   

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Luis Milla Latih Persib Gantikan Robert Rene Albert

Jumat, 19 Agustus 2022 | 19:40 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB
X