• Selasa, 31 Januari 2023

Sagu Penangkal Krisis Pangan

- Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Dalam sebuah acara Omar Niode Foundation dengan Future Food Institute dan United Nations Food Agriculture Organization, Nelda Hermawan sebagai Head of Commercial, Sago & Edamame di Austindo Nisantara Jaya memaparkan tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan penggunaan sagu secara komersial.

Industri makanan umumnya kurang memahami sifat pati sagu dalam berbagai formulasi produk makanan, sehingga enggan untuk berkreasi lebih jauh dengan bahan ini.  Selain itu harga pasarnya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tepung gandum, terigu, tapioka dan tepung jagung. Akibatnya  industri sagu sulit untuk bersaing walaupun produktivitasnya per hektar lahan enam kali lebih tinggi daripada beras.

Dari sisi konsumen, masih kurang pengertian pemanfaatan sagu bagaimana menggunakannya untuk memasak. Padahal, sagu sebagai jenis karbohidrat yang bebas gluten ini dapat membantu mengontrol tekanan darah, dan meningkatkan sirkulasi darah. Karena memiliki indeks glikemik yang sangat rendah sagu sangat cocok untuk penderita diabetes dan obesitas. Sagu juga dapat membantu pembentukan jaringan tulang, serta meningkatkan pemulihan otot dan  fungsi sistem saraf.

Bagaimana agar produksi dan pemanfaatan sagu di Indonesia dapat lebih masif sebagai penangkal krisis pangan dan krisis lingkungan?
 
Pemerintah memasukkan sagu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, sehingga sagu dipandang sebagai bagian yang penting dan strategis bagi ketahanan pangan nasional. 
 
Namun, pelaku industri sagu menghimbau tindakan konkret dari pemerintah menghidupkannya, tidak berhenti di kebijakan dan kegiatan seremonial saja.
 
Para provinsi penghasil sagu perlu diperhatikan dari sisi infrastruktur dan tatanan sosialnya agar komoditas ini dapat diolah dengan baik, tidak terbatas pada skala rumahan. Insentif bagi pelaku juga diperlukan khususnya di bidang fiskal karena pada skala besar, sagu dapat dikatakan merupakan industri pionir. Masyarakat Indonesia perlu dibiasakan untuk menikmati sagu, sehingga upaya mengangkat citra sagu sebagai kuliner harus terus menerus dilaksanakan. Pemerintah Provinsi Maluku, misalnya, berencana memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia dengan menyajikan 500 jenis makanan dari sagu pada Hari Ulang Tahun Provinsi ke-77 di bulan ini.

Bagaimanapun asingnya bagi lidah sebagian orang, sagu sangat cocok digunakan untuk berbagai resep masakan Indonesia maupun internasional. Ragam kuliner dengan bahan sagu termasuk bakso, bubur, sup, pasta, pizza, mie, sushi, dan pempek. Penganan sagu dapat berupa roti, jajan pasar, kue kering, dan puding. Minuman dari sagu ada es krim, cendol,  es campur, dan boba.

Pada dasarnya, pengetahuan tentang sagu akan meningkatkan kepedulian, yang berlanjut pada penerimaan produk, dan akhirnya penggunaan sagu secara masif.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X