• Minggu, 2 Oktober 2022

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

- Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis

Watyutink.com - Sebulan masyarakat Indonesia disuguhi kisah tragis, tragedi drama manusia, bernuansa fiksi, tentang kematian Brigadir Joshua. Drama “tembak-menembak” antara Brigadir Joshua (J) dan Bharada Elieser (E), sesama polisi, di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo pada 8 Juli 2022 ini mulai terungkap faktanya. Namun selama satu bulan sebelum fakta terungkap, narasi fiksi dan spekulasi beredar liar.

Fiksi pertama adalah versi aktor utama, Irjen Ferdy Sambo. Upaya memfiksikan fakta pembunuhan Joshua diawali empat hari setelah peristiwa. Pada 12 Juli, kepolisian mengeluarkan rilis untuk media tentang tragedi ini. Kenapa perlu waktu empat hari? Karena polisi harus “istirahat” saat liburan Idul Adha, 9 Juli. Selain itu, polisi perlu waktu untuk merancang fiksi, mengumpulkan “fakta”.

Menurut kepolisian, seperti disampaikan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto, peristiwa “tembak-menembak” di Duren Tiga dipicu aksi pelecehan seksual Brigadir J pada Putri Candrawathi, Istri Ferdy Sambo. Brigadir J masuk ke kamar Putri melakukan pelecehan. Putri berteriak minta tolong.

Bharada E mendengar teriakan itu dan segera masuk ke rumah, mendapati Brigadir J turun tangga dan menembaknya. Terjadilah aksi tembak-menembak antara Brigadir J dan Bharada E. Brigadir J tewas dalam adegan kekerasan ala film laga ini. Kematian yang wajar, tidak ada yang janggal.

Narasi fiktif resmi versi polisi ini sepertinya meyakinkan, pada awalnya. Apalagi didukung oleh Ketua Komisi Kepolisian Nasional, Benny Mamoto, lembaga pengawas polisi, yang mengaku ikut turun langsung ke lokasi dan melihat bukti-bukti. Namun narasi fiktif ini kemudian dipersoalkan oleh pengacara keluarga Brigadir J, Kamarudin Simanjuntak.

Simanjuntak berteriak, mengajak publik untuk merekonstruksi fakta, melihat sejumlah kejanggalan, berdasarkan foto-foto hasil visum. Menurutnya, ada kisah mengerikan, aksi sadisme, penyiksaan dan pembunuhan terencana. Brigadir J tewas bukan akibat adegan tembak-menembak, tapi disiksa.

Simanjuntak menunjukkan foto dan video hasil visum, yang diambil secara sambil lalu. Menjelaskan secara terinci, sejumkah luka akibat benda tajam hingga peluru di tubuh Brigadir J. Ada sejumlah sayatan, beberapa luka tembak, luka memar, pergeseran rahang, luka di bahu, di kaki, di telinga serta di berbagai tubuh lainnya.

Kemudian beredar pula narasi versi lain, “fakta berbasis rekaman CCTV” di koridor jalan tol. Menurut satu media online, Brigadir J dihabisi di jalan tol rute Jakarta-Magelang. Aksi pembunuhan itu terekam kamera CCTV jalan tol.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X