• Selasa, 31 Januari 2023

Teori Permainan dan Politik Copras-Capres

- Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:05 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis

Watyutink.com - Jangan melihat segala sesuatu hanya dari perspektifmu sendiri, tapi coba pahami perspektif pihak lain. "Posisi orang lain adalah sudut pandang yang benar dalam moralitas politikmu". Ungkapan Filsuf dan matematikawan Gottfried Leibniz ini relevan untuk memahami politik sebagai satu permainan (Game Theory), terkait dengan mulai maraknya deklarasi calon presiden di Indonesia..

Teori permainan memakai matematika untuk menjelaskan interaksi antara berbagai "pemain" (agen). Mencoba merumuskan solusi, kesetimbangan (equilibrium), berupa rekomendasi bagi setiap pemain, bagaimana sebaiknya bertindak dan berstrategi, secara simetris dan imparsial. Karena politik yang hanya baik bagi satu pemain, dan buruk bagi yang lain, bukanlah hasil politik yang baik. Politik zero-sum game.

Politik bermain acak (random), tidak mudah diprediksi, adalah tipikal politik zero-sum game. Politik egoistis-pragmatis yang menggantungkan pada peluang dan kesempatan, bukan pada kekuatan prinsip etika politik, informasi, atau kejelasan platform ideologi. Alias politik coba-coba, otak-atik, untung-untungan, atau tebak-tebakan. Selain permainan zero-sum, politik juga soal adu siasat untuk kooperatif atau non-kooperatif, simetrik atau asimetrik, simultan atau sekuensial.

Dalam politik penting untuk menetapkan "aturan main", yang bukan sekadar UU atau peraturan, namun juga kesepakatan, konvensi, strategi, taktik, dan sejenisnya. Agar politik sebagai permainan kompetisi untuk memenangkan kekuasaan berlangsung menarik dan menyenangkan.

Politik mengusung Capres mirip permainan poker, setiap pemain (parpol dan capres) cenderung memainkan kartu, menggertak untuk meningkatkan posisi tawar. Berupaya mengesankan kartu yang dimiliki adalah yang terbaik. Analogi lain, seperti permainan adu tendangan penalti dalam sepak bola. Penjaga gawang perlu pintar menebak, mengantisipasi, ke mana tendangan algojo penalti diarahkan, untuk memastikan gawangnya tidak kebobolan. Algojo penalti perlu cerdik memberi isyarat palsu ke penjaga gawang lawan, seolah ia akan menendang ke sudut kiri, walau sejatinya ia akan menendang bola ke sudut kanan.

Ada setidaknya lima jenis permainan dalam Teori Permainan (Game Theory) yang bisa dipakai untuk menjelaskan situasi dinamika politik pencapresan di Indonesia saat ini, secara jenaka. Untuk mengendorkan ketegangan, kecemasan, dan menegasi kesan keseriyesan hiruk-pikuk "copras-capres" menjelang Pilpres 2024. Berikut uraiannya:

Dilema Narapidana (The Prisoners's Dilema): Ini situasi yang sedang dihadapi PDIP dalam memutuskan secara definitif, apakah akan mengusung Puan Maharani atau Ganjar Pranowo sebagai capres. Dua capres dari satu partai ini, sepertinya, tidak lagi bisa berkomunikasi (benarkah?). Megawati, selaku ketua Umum PDIP, mengalami dilema, apakah mencalonkan putrinya yang kurang populer untuk melanjutkan legasi "trah Soekarno", atau Ganjar yang sangat populer, tapi tidak ada jaminan akan seratus persen loyal sebagai "petugas partai". Pengalaman di era Jokowi.

Permainan Berburu Rusa (Stag Hunt Game): Sering dinamai juga Permainan Dilema Kepercayaan atau Kepentingan Bersama. Dua pemburu musti bekerjasama agar sukses dalam berburu. Ini sedang dimainkan oleh Surya Paloh Nasdem dan Anies Baswedan, Dua pemburu politik kekuasaan, dengan mengabaikan prinsip ideologi politik dan latar belakang kultural, bersikap pragmatis untuk memenangkan kursi kekuasaan.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X