• Selasa, 31 Januari 2023

Climate TRACE

- Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB
Ilustrasi: Muid/watyutink.com
Ilustrasi: Muid/watyutink.com

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia
 
Watyutink.com - Jika diterjemahkan secara harfiah, Cimate TRACE adalah Jejak Iklim, namun TRACE di sini merupakan akronim dari Tracking Real-time Atmospheric Carbon Emissions atau Melacak Emisi Karbon Atmosfer Secara Waktu Nyata.

Climate TRACE merupakan koalisi global lembaga nonprofit, perusahaan teknologi, dan universitas yang dibentuk untuk melaksanakan aksi iklim yang bermakna agar lebih cepat dan lebih mudah. Ini dilakukan dengan secara mandiri melacak emisi gas rumah kaca (GRK) pemicu perubahan iklim, dengan detail dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kegiatan yang dilakukan termasuk  memanfaatkan citra satelit dan bentuk lain dari penginderaan jauh, kecerdasan buatan, dan keahlian ilmu data untuk mengidentifikasi emisi GRK yang disebabkan oleh kegiatan manusia, serta kapan dan di mana emisi terjadi. Dengan demikian, penanganan perubahan iklim melalui berbagai kegiatan dapat difasilitasi agar lebih tepat dan terarah.
 
Media ini pernah menulis tentang koalisi itu ketika baru saja diluncurkan dua tahun yang lalu, melalui artikel Melacak Pemicu Perubahan Iklim.
 
Climate TRACE yang merupakan platform pelaporan emisi secara independen memiliki anggota koalisi tanpa pemimpin dan tidak dibentuk secara legal. Sekarang sudah ada 50 entitas yang tergabung di dalamnya antara lain Blue Sky Analytics, CarbonPlan, Earthrise Alliance, Hudson Carbon, Hypervine, Johns Hopkins Applied Physics Laboratory, OceanMind, RMI, TransitionZero, WattTime, serta tokoh perubahan iklim yang mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore.
 
Hingga saat ini, sebagian besar inventarisasi emisi GRK didasarkan pada data yang dilaporkan sendiri, baik oleh Negara maupun korporasi. Laporan yang ada umumnya terlambat bertahun-tahun, mengandalkan perkiraan kasar, dan tidak dapat diakses oleh masyarakat.
 
Padahal, para pejabat pemerintah, ilmuwan, investor, eksekutif, dan aktivis membutuhkan data yang lebih baik untuk mendukung pembuatan kebijakan yang bertujuan membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5°C sebagaimana disepakati dalam Persetujuan Paris tentang Perubahan Iklim.
 
Climate TRACE memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan pembelajaran mesin (machine learning), untuk menganalisis lebih dari 59 triliun byte data dengan sumber  lebih dari 300 satelit, lebih dari 11.100 sensor, dan berbagai sumber tambahan informasi tentang emisi dari seluruh dunia.
 
Data yang dihimpun sepenuhnya gratis dan dapat diakses oleh masyarakat umum melalui situs web Climate TRACE
 
Data yang tersedia sepenuhnya numerik, tanpa peta, meliputi estimasi emisi gas rumah kaca global dari tahun 2015 hingga 2020, yang dapat dikategorikan menurut negara dan sektor penghasil emisi. Informasi yang ada diproduksi dan diperbarui setiap tahunnya.
 
Sektor yang dicakup meliputi pembangkit, kehutanan dan tata guna lahan, manufaktur, transportasi, pertanian, minyak dan gas, bangunan, limbah, maritim, dan ekstraksi mineral.

Sebagai contoh, data dari tahun 2015 sampai 2020 menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca seluruh sektor dan seluruh Negara di dunia mencapai 303,96 milyar ton CO2 ekivalen. Ada peningkatan emisi sebesar 1,5% dalam 5 tahun. Emisi terbesar berasal dari sektor pembangkit (27,04%), disusul oleh manufaktur (18,77%), transportasi (14,17%), pertanian (12.59%), minyak dan gas (10,94%), bangunan (8,19%), limbah (6,42%), maritime (1,77%), dan ekstraksi (0,11%).
 
Menjelang COP27, Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, yang akan berlangsung di Sharm El-Sheikh, Mesir pada tanggal 6-18 November 2022, Climate TRACE berencana merilis inventaris tingkat aset pertama, yang akan menunjukkan emisi gas rumah kaca dari pembangkit listrik individu, pabrik baja atau kapal kargo. Climate TRACE juga bermaksud memeringkat 500 sumber polusi gas rumah kaca terbesar di setiap subsektor ekonomi global.

Dengan Climate TRACE ada keyakinan positif bahwa penanganan perubahan iklim tidak selalu tanpa harapan dan hasil yang baik.

 

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X