• Selasa, 31 Januari 2023

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

- Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB
Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

 

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Sejak 1995, Conference of Parties (COP) – United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), atau Konferensi Para Pihak - Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim diselenggarakan setiap akhir tahun di kota yang berbeda.
 
COP digunakan untuk membuat keputusan tentang bagaimana perjanjian perubahan iklim  diimplementasikan, meninjau apa yang telah dicapai oleh Para Pihak, mengukur kemajuan dalam memerangi perubahan iklim, serta menyusun target yang perlu dicapai kedepannya. Saat ini, terdapat 198 Pihak (197 Negara dan 1 organisasi integrasi ekonomi regional) pada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.
 
COP27 yang bertema Together for Implementation. #JustandAmbitious ditetapkan tanggal 6 – 18 November di Sharm El-Sheikh, sebuah kota wisata pantai di Mesir, terletak  antara gurun Semenanjung Sinai dan Laut Merah dengan peserta yang diperkirakan melebihi 30.000 orang.
 
Negara-negara anggota PBB akan berkumpul untuk mengambil tindakan dalam  mencapai tujuan iklim kolektif dunia sebagaimana disepakati UNFCCC dan Persetujuan Paris.

UNFCCC bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, yang diakibatkan oleh kegiatan manusia, pada tingkat yang dapat mencegah gangguan manusia yang membahayakan sistem iklim. Sedangkan Persetujuan Paris berusaha untuk mempercepat dan mengintensifkan tindakan dan investasi yang diperlukan untuk masa depan yang rendah karbon dan berkelanjutan.

Melalui Persetujuan Paris, respon global terhadap ancaman perubahan iklim  dapat diperkuat dengan menjaga kenaikan suhu global abad ini agar di bawah 2ºC dibandingkan suhu pra-industri,  dan diupayakan menekannya hingga 1,5ºC. Persetujuan ini juga dimaksudkan untuk membina kemampuan negara-negara dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
 
Berdasarkan hasil dan momentum COP 26 di Glasgow tahun lalu, negara-negara diharapkan menunjukkan di COP 27 bahwa mereka berada di era baru implementasi dengan mengubah komitmen mereka di bawah Persetujuan Paris menjadi tindakan konkret.

Masih banyak yang skeptis akan hasil yang dapat dicapai di COP27,  apalagi Badan Lingkungan PBB (UNEP) baru saja mengeluarkan Emissions Gap Report 2022. Intinya, komunitas internasional sulit untuk memenuhi Persetujuan Paris, karena tidak ada jalur yang kredibel untuk mencapai 1,5°C. Hanya transformasi seluruh sistem yang mendesak lah yang dapat menghindari bencana iklim.
 
Menjelang pelaksanaan COP 27, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya memberikan arahan kepada para Delegasi Republik Indonesia (Delri) yang akan berangkat ke Sharm El-Sheikh.
 
Unsur Delri mewakili Kementerian/Lembaga, Parlemen, Pemerintah Daerah, Kalangan Bisnis, Akademisi/Universitas/Lembaga Penelitian, LSM, Generasi Muda, dan Praktisi Individu. Mereka bertugas sebagai delegasi negosiator pada pertemuan-pertemuan wajib, maupun delegasi outreach melalui Paviliun Indonesia dan kegiatan lainnya.
 
Menteri Siti menekankan bahwa Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) Indonesia, dapat menjadi referensi utama bagi Delri, baik dalam negosiasi maupun Paviliun Indonesia di COP 27.
 
Sebagaimana diketahui, NDC/Nationally Determined Contribution atau kontribusi yang ditentukan secara nasional, adalah komitmen masing-masing negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim (mitigasi), dan menyesuaikan terhadap dampak perubahan iklim (adaptasi).
 
Hal-hal yang dimutakhirkan di dalam dokumen ENDC adalah peningkatan target NDC, perkembangan kebijakan nasional, kebijakan adaptasi perubahan iklim dan kerangka transparansi. Target penurunan emisi Gas Rumah Kaca Indonesia dengan kemampuan sendiri pada Updated NDC (UNDC) sebesar 29% meningkat ke 31,89% pada ENDC, sedangkan target dengan dukungan internasional pada UNDC sebesar 41% meningkat ke 43,20% pada ENDC.
 
Paviliun Indonesia, sebagai upaya soft diplomacy untuk menyuarakan aksi, strategi, dan inovasi Indonesia kepada dunia internasional akan mengadakan 63 sesi talk show yang memaparkan perkembangan terkini tentang upaya pengendalian perubahan iklim yang telah dan sedang dilakukan, disamping juga menampilkan pertunjukan seni dan budaya.

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X