• Selasa, 31 Januari 2023

Debat di Konferensi Iklim Mesir

- Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB
Ilustrasi: Muid/Watyutink.com (Muid)
Ilustrasi: Muid/Watyutink.com (Muid)

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Berbagai pertemuan utama yang sedang berlangsung di Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, COP27 UNFCCC, di Sharm El-Sheikh, Mesir setidaknya membahas lebih dari 100 butir agenda. Di samping sesi negosiasi dan acara-acara wajib PBB, ada juga kegiatan dengan beragam topik di Paviliun banyak Negara, dan ribuan aktivitas lainnya.
 
Salah satu persoalan yang menjadi pembicaraan hangat dan perdebatan sengit, adalah Loss and Damage, yaitu Kerugian dan Kerusakan akibat Dampak Perubahan Iklim.
 
Saat ini upaya kolektif untuk mitigasi (mengekang emisi gas rumah kaca pemicu perubahan iklim) dan adaptasi (menyesuaikan diri untuk antisipasi pengaruh buruk iklim) tidak cukup untuk mengatasi kecepatan dan skala dampak iklim, yang berarti bahwa kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim tidak dapat dihindari.
 
Loss and Damage adalah istilah umum yang digunakan dalam negosiasi iklim PBB untuk merujuk pada konsekuensi perubahan iklim ketika masyarakat tidak lagi dapat beradaptasi, atau ketika ada opsi untuk menghadapinya, tetapi komunitas tidak memiliki sumber daya untuk mengakses atau memanfaatkannya. Kerugian dan kerusakan akan terus berdampak bagi masyarakat yang paling rentan, menjadikan penanganan masalah ini sebagai masalah keadilan iklim.

Kerugian dan kerusakan yang timbul dari dampak buruk perubahan iklim dapat mencakup berbagai hal terkait dengan cuaca ekstrem, peristiwa yang terjadi secara perlahan (slow onset) seperti kenaikan permukaan laut, peningkatan suhu, pengasaman laut, salinisasi, degradasi lahan dan hutan, penggurunan, hilangnya keanekaragaman hayati dan warisan budaya.
 
Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan, pada Januari-Oktober 2022 ada lebih dari 3000 bencana alam, dengan lebih dari 40% nya merupakan kejadian banjir. Bencana lain meliputi cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, gelombang pasang dan abrasi, kekeringan. Sedangkan bencana yang tidak terkait iklim termasuk gempa bumi dan erupsi gunung berapi.
 
Selain menimbulkan korban jiwa, berbagai bencana itu menyebabkan lebih dari 30.000 rumah dan sekitar 900 fasilitas rusak, termasuk fasilitas pendidikan, peribadatan dan kesehatan.
 
Studi Bappenas mencatat potensi kerugian ekonomi yang dialami Indonesia pada 2020-2024 karena perubahan iklim dapat mencapai 544 triliun rupiah jika tidak ada intervensi kebijakan. Ini meliputi aspek pesisir dan lautan, kelangkaan air, menurunnya produksi pertanian, dan kasus-kasus kesehatan.
 
V20, sebagai koalisi Negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim menyatakan dalam 20 tahun terakhir kerugian yang mereka alami telah mencapai 525 miliar dolar AS.

Yang diperjuangkan di COP27 adalah agar pendanaan terkait kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim dapat masuk dalam agenda negosiasi. Sebenarnya upaya ini telah mulai diperjuangkan sejak 1991, namun dalam perkembangan selanjutnya belum ada hasil yang memuaskan.
 
Indonesia menganggap loss and damage sebagai salah satu prioritas dalam negosiasi di COP27, dan mendukung diskusi tentang keuangan untuk kerugian dan kerusakan.
 
Emisi gas rumah kaca dari sejumlah negara berpenghasilan rendah, dan rentan terhadap perubahan iklim cukup rendah, tetapi merekalah yang terkena dampak buruk. Karenanya menurut mereka negara-negara maju dengan emisi tinggi harus memberikan kompensasi terhadap kerugian dan kerusakan yang dialami.
 
Kekhawatiran Negara-negara maju adalah kompensasi atas kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim dapat ditafsirkan sebagai pengakuan tanggung jawab hukum, yang memicu litigasi dan klaim kompensasi dalam skala besar.

Setelah diperjuangkan cukup lama, akhirnya loss and damage masuk dalam agenda negosiasi di COP27 dan beberapa Negara maju menjanjikan dana untuk kerugian dan kerusakan, di antaranya Austria, Belgia, Denmark, Irlandia, Jerman, Kanada, Skotlandia, dan Selandia Baru.
 
Angka yang dijanjikan sangat tidak memadai dibandingkan dengan perkiraan pendanaan untuk loss and damage yang dibutuhkan, yaitu satu triliun dolar AS pada 2050. Karenanya, negosiasi dan berbagai pertemuan terkait pendanaan kerugian dan kerusakan akan terus berlangsung sampai COP27 berakhir, bahkan berlanjut pada forum-forum internasional yang akan datang.

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X