• Selasa, 31 Januari 2023

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

- Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB
Ilustrasi: Muid/Watyutink.com (Muid)
Ilustrasi: Muid/Watyutink.com (Muid)

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Polikrisis adalah menyatunya berbagai tantangan jangka panjang yang dihadapi umat manusia dalam beberapa dekade terakhir, sehingga menimbulkan dinamika tersendiri.

Michael Lawrence dan rekan-rekannya di Cascade Institute, sebuah pusat riset di Kanada menggambarkan polikrisis sebagai gabungan risiko sistemik global seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pandemi, melebarnya kesenjangan ekonomi, ketidakstabilan sistem keuangan, ekstremisme ideologis, dampak sosial digitalisasi, meningkatnya kerusuhan sosial dan politik, migrasi paksa berskala besar, dan meningkatnya bahaya perang nuklir.
 
Polikrisis sudah mulai ditelaah sejak 30 tahun lalu, namun komunitas orang-orang yang berdedikasi untuk memahami, mengurangi, dan mengatur polikrisis tetap terfragmentasi. Padahal, dibandingkan dengan situasi umat manusia bahkan dua dekade yang lalu, sebagian besar risiko di atas telah meningkat lebih parah dan lebih cepat. Juga krisis yang ditimbulkannya lebih sering terjadi secara bersamaan.
 
Inti dari konsep polikrisis, masih menurut Cascade Institute, adalah krisis dalam satu sistem global memiliki efek tidak langsung yang mengalir ke sistem global lainnya. Krisis global semakin jarang terjadi dalam isolasi; mereka berinteraksi satu sama lain sehingga satu krisis membuat krisis kedua lebih mungkin terjadi dan memperdalam kerugian  secara keseluruhan.
 
Apa yang tampak sebagai krisis terpisah dalam sistem global yang berbeda pada kenyataannya berinteraksi, memperburuk, dan membentuk polikrisis yang harus dipahami dan ditangani secara keseluruhan.
 
Dalam pusaran polikrisis, maka diplomasi multilateral, yaitu perundingan universal yang melibatkan masyarakat internasional sangat memegang peranan penting.

Contohnya adalah COP27, Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, di Sharm El-Sheikh Mesir yang diselenggarakan 6-18 November. 

Chatham House, sebuah lembaga kebijakan di Inggris menulis bahwa COP27 adalah kesempatan langka bagi para pihak (negara) dan pengamat untuk berkumpul dan berdebat dengan tantangan yang berdampak pada seluruh umat manusia. Sementara COP berlangsung dalam konteks 'polikrisis' global, aksi dan kerja sama iklim dapat memberikan cara yang efektif untuk memajukan pangan, energi, alam, dan keamanan, serta hubungan penting dialog dan kerja sama internasional dalam berbagai isu tersebut.
 
Dalam hal ini, para pemimpin dunia, menteri, dan negosiator berkumpul untuk menyepakati bagaimana menangani perubahan iklim dan dampaknya secara bersama-sama. Masyarakat sipil, bisnis, organisasi internasional, dan media 'mengamati' proses untuk menghadirkan transparansi, serta perspektif yang lebih luas, ke dalam proses.
 
Sampai hari-hari terakhir COP27 ketika tulisan ini diturunkan, ada beberapa hal yang masih menjadi perdebatan sengit, di antaranya tentang cover text, atau draf keputusan akhir COP27. Hal lainnya adalah pendanaan, mitigasi (mengurangi emisi karbon penyebab perubahan iklim), adaptasi (mengurangi risiko dan kerentanan iklim), loss and damage (kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim), serta desain pasar karbon.
 
Sebagaimana pernah ditulis di portal opini berita ini, negosiator dari berbagai negara melakukan perundingan multilateral di COP untuk mencapai kesepakatan yang mencerminkan konsensus di antara Para Pihak. Ini berarti semua negara harus menyetujui keputusan yang ditetapkan, dengan prinsip nothing is agreed until everything is agreed (tidak ada yang disepakati sampai semuanya disetujui).
 
Pengambilan keputusan kolektif merupakan hal yang tidak mudah, karena menyangkut berbagai masalah terkait perubahan iklim global yang rumit, serta kepentingan ekonomi dan politik berbagai negara. Kesepakatan harus dicapai baik dari sisi prosedural yang dirumuskan dalam aturan prosedur, maupun dari sisi substansi, sesuai pokok-pokok masalah dalam agenda pertemuan
 
Menghadapi kebuntuan dalam perundingan multilateral COP27, layak disimak pendapat Omega Project, dari lembaga nirlaba Commonweal. Manusia dapat berupaya untuk menyalurkan polikrisis ke arah yang lebih baik, dengan peningkatan pemahaman dan peta untuk menavigasinya. Manusia juga selalu memiliki harapan untuk menemukan jalan menuju dunia yang lebih baik. Ini yang oleh filsuf Antonio Gramsci disebut sebagai pessimism of the intellect, optimism of the will (pesimisme kecerdasan, optimisme kemauan). Dengan kata lain, kemauan dapat mengatasi banyak tantangan jika harapan tetap ada.
 

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X