• Jumat, 7 Oktober 2022

OJK : Banyak Dilema UMKM Dalam Menggunakan Fintech Untuk Pendanaan

- Kamis, 1 September 2022 | 18:30 WIB
Sumber Foto: Screenshot Channel YouTube @lppi.id
Sumber Foto: Screenshot Channel YouTube @lppi.id
Watyutink.com - Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech Otorita Jasa Keuangan (OJK), Munawar Kasan, mengakui Fintech sangat vital dalam mendanai aktivitas kegiatan UMKM. Hal ini penting mengingat Usaha Mikro, kecil dan Menengah (UMKM) sangat sulit dijangkau pendanaan dari perbankan dan koperasi

"Kesenjangan pendanaan yang sangat besar bagi UMKM, tidak bisa dipenuhi perbankan, koperasi tidak bisa penuhi, di sisi lain ada jutaan UMKM. UMKM menghadapi permasalahan pendanaan, dan disini peran fintech sangat signifikan (untuk pendanaan)," jelas Munawar dalam diskusi virtual Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) bertajuk Inklusi Keuangan Melalui Fintech
 
Potensi fintech melalui peer to peer lending sangat besar. Saat ini sudah ada 102 platform legal, yang memiliki 87,29 juta rekening pengguna, dengan akumulasi pinjaman sebesar Rp 418,86 triliun, dan total aset sebesar Rp 4,88 triliun.

Sementara itu, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Terdapat sekitar 65 juta pelaku UMKM (99,99 persen) dari total pelaku usaha yang menyerap sekitar 120 juta tenaga kerja Indonesia (97 persen total tenaga kerja Indonesia).

Meski begitu, terdapat dilema dalam menggunakan peer to peer lending bagi pendanaan. Dilema tersebut adalah bunga yang tinggi dan pinjaman yang tidak dijamin oleh lembaga peminjam berupa fintech dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"kalau di peer to peer, saya tidak hutang 1 miliaar kepada platform tapi langsung kepada lender, jika saya gagal bayar di perbankan, bank yang tanggung, tapi kalau saya gagal bayar di peer to peer, saya yang tanggung. Uangnya di perusahaan peer to peer itu bukan milik perusahaan, tapi milik lender (peminjam)," ujar Munawar.

Mengingat risiko-risiko yang dijelaskan tersebut, maka penting untuk meningkatkan literasi keuangan untuk meminimalisi resiko keuangan, bahkan saat meminjam dari platform ilegal sekaligus.

"bahkan untuk yang legal seperti polis asuransi pun orang ga mau baca, bahkan yang legal saja literasi harus kita tingkatkan, sehingga ada program2 meningkatkan literasi, baik offline, online, kita pakai," ucap Munawar.

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

LPS: Ekonomi RI Masih Mampu Tumbuh Baik Tahun Depan

Kamis, 6 Oktober 2022 | 20:54 WIB

Indonesia Darurat Kemanan Cyber!

Kamis, 8 September 2022 | 20:15 WIB
X