• Jumat, 7 Oktober 2022

Anthony Budiawan : Surplus Harga Komoditas Seharusnya Bisa Tutupi Subsidi BBM

- Minggu, 4 September 2022 | 22:00 WIB
Pengamat Ekonomi Bantah Anggaran BBM Subsidi Capai Rp502 T, Anthony Budiawan: Mana Buktinya? (Tangkapan layar/YouTube Realita TV)
Pengamat Ekonomi Bantah Anggaran BBM Subsidi Capai Rp502 T, Anthony Budiawan: Mana Buktinya? (Tangkapan layar/YouTube Realita TV)

Watyutink.com - Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menganggap kenaikan harga BBM tidak perlu terjadi seandainya negara bisa memanfaatkan surplus pendapatan negara karena naiknya harga komoditas seperti batubara.

Kenaikan pendapatan negara hingga 50 persen seharusnya dijadikan momentum untuk membagi 'durian runtuh' berupa perbaikan daya beli masyarakat dengan menggunakan harga BBM yang sesuai dengan situasi ekonomi masyarakat yang saat ini dilanda banyak kesulitan.

"Bisnis dengan rakyat: harga pertalite naik Rp2.350 per liter x sisa konsumsi tahun ini anggap 10 juta KL = Rp23,5 triliun. Harga solar naik Rp1.650 per liter x sisa konsumsi 5 juta KL = Rp8,25 triliun. Inikah nilai menyakiti hati masyarakat, nilai keadilan: hanya Rp31,75 triliun?" cuit Anthony dalam akun twitternya.

Baca Juga: Anthony Budiawan: Kebijakan ESDM Atur Harga Vivo Langgar UU Anti Monopoli

Konsumsi BBM yang masih tersisa jika dikalikan dengan selisih harga pasca kenaikan BBM senilai Rp 31,75 triliun, menurut Anthony tidak seharusnya terjadi. Pendapatan negara yang naik karena naiknya harga komoditas, menurutnya, harus juga dinikmati masyarakat di tengah situasi sulit.

"Di lain sisi, Pendapatan Negara per Juli 2022 naik Rp519 triliun (50,3%), akibat harga komoditas, yang notabene milik negara, meroket. Bukannya membagi rejeki ‘durian runtuh’ ini kepada masyarakat, sebagai kompensasi kenaikan harga pangan, yang ada malah menaikkan harga BBM: Sehat?," tegasnya lagi.

Anthony menyarankan pemerintah untuk memanfaatkan devisa dari ekspor batubara, mengingat terdapat kenaikan hasil ekspor dari 14,5 miliar dolar pada tahun 2020, menjadi 26,5 miliar dolar pada tahun ini.

Baca Juga: Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

"Sedangkan ‘durian runtuh’ sektor batubara sangat besar, ekspor 2021 naik $12 miliar, dari $14,5 miliar (2020) menjadi $26,5 miliar. Kenapa Rp31,75 triliun, sekitar $2 miliar saja, tidak ambil dari batubara ini? Kenapa harus dari rakyat kecil? Bukankah batubara milik rakyat juga?," jelasnya kemudian.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

LPS: Ekonomi RI Masih Mampu Tumbuh Baik Tahun Depan

Kamis, 6 Oktober 2022 | 20:54 WIB

Indonesia Darurat Kemanan Cyber!

Kamis, 8 September 2022 | 20:15 WIB
X