• Minggu, 25 September 2022

BI Borong SBN Rp102,3 Triliun di Pasar Perdana, IMF Sempat Rekomendasikan Batasi Pembelian

- Jumat, 23 September 2022 | 17:39 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo (bi.go.id)
Gubernur BI Perry Warjiyo (bi.go.id)

Watyutink.com – Bank Indonesia (BI) hingga 20 September 2022 telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana sebesar Rp102,3 triliun.

Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana oleh Bank Indonesia (BI) tersebut merupakan pelaksanaan Kesepakatan Bersama Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sejalan dengan program pemulihan ekonomi nasional.

Selain untuk pemulihan ekonomi nasional, Kesepakatan Bersama Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana oleh Bank Indonesia (BI) juga sejalan dengan program pembiayaan penanganan kesehatan dan kemanusiaan dalam rangka penanganan dampak pandemi Covid-19

“Pelaksanaan operation twist telah mendorong imbal hasil SBN tenor jangka pendek meningkat sementara imbal hasil SBN tenor jangka panjang relatif terjaga’” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangan pers mengenai penaikan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen, di Jakarta, Kamis (22/9/2022).

Lebih lanjut Perry mengatakan suku bunga IndONIA pada 20 September 2022 naik 58 bps dibandingkan dengan akhir Juli 2022 menjadi sebesar 3,38 persen.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) merekomendasikan kepada Bank Indonesia (BI) untuk membatasi pembelian obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana pada 2022.

Lembaga itu juga menyarankan Bank Indonesia untuk memberi fleksibilitas lebih besar pada nilai tukar rupiah.  Hal ini dijalankan guna menghadapi situasi ekonomi yang terkena dampak negatif dari pengetatan kebijakan moneter global.

"Tim IMF mendukung komitmen pihak otoritas keluar dari pembelian obligasi untuk bantu pembiayaan anggaran pada akhir 2022. Kita merekomendasikan untuk membatasi pembelian (obligasi) lebih lanjut di pasar perdana di bawah mekanisme pasar tahun ini," ujar Indonesia Mission Chief IMF Cheng Hoon Lim, seperti dikutip dari CNA, Kamis (27/1/2022).

Menurut Lim, Indonesia berada dalam posisi yang baik untuk menormalkan kebijakan dan langkah penyerapan likuiditas BI akan membantu mengantisipasi pengetatan moneter oleh The Fed, bank sentral Amerika Serikat (AS).

"Ketika The Fed melakukan pengetatan, kami tidak bisa mengantisipasi arus modal yang keluar. Kami mengharapkan penyesuaian kebijakan moneter BI," tuturnya.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

Indonesia Darurat Kemanan Cyber!

Kamis, 8 September 2022 | 20:15 WIB
X