• Kamis, 8 Desember 2022

Harga Minyak Turun, Tertekan Penguatan Dolar Akibat Lonjakan Covid-19

- Selasa, 15 November 2022 | 09:00 WIB
Aktivitas pengeboran minyak dan gas lepas pantai. (Reliance Sekuritas)
Aktivitas pengeboran minyak dan gas lepas pantai. (Reliance Sekuritas)

Watyutink.com - Harga minyak turun sekitar tiga dolar lebih rendah pada akhir perdagangan Senin, atau Selasa (15/11/2022) pagi WIB, dipengaruhi penguatan dolar AS akibat melonjaknya kasus Virus Corona di China. Hal ini memupus harapan pembukaan kembali ekonomi yang cepat untuk importir minyak mentah terbesar dunia.

Untuk pengiriman Januari, harga minyak mentah berjangka Brent untuk terpangkas 2,85 dolar AS atau 3,00 persen, menjadi menetap pada 93,14 dolar AS per barel, setelah naik 1,1 persen pada Jumat (11/11/2022).

Sementara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember merosot 3,09 dolar AS atau 3,47 persen, menjadi ditutup di 85,87 dolar AS per barel, setelah terangkat 2,9 persen pada akhir pekan lalu.

Pada Jumat (11/11/2022), harga-harga komoditas menguat sesudah  Komisi Kesehatan Nasional China menyesuaikan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian COVID untuk mempersingkat waktu karantina untuk kasus kontak dekat dan pelancong yang datang.

Diketahui kasus COVID-19 meningkat di China selama akhir pekan, dengan Beijing dan kota-kota besar lainnya pada Senin (14/11/2022) melaporkan rekor infeksi.

"Lonjakan kasus COVID hanya akan menyebabkan lebih banyak penguncian dalam waktu dekat ... untuk saat ini China bukan sumber dukungan bullish untuk kompleks perminyakan," ungkap John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Sementara itu, dolar AS juga naik terhadap euro dan yen, karena investor bersiap untuk potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve AS setelah seorang pembuat kebijakan mengatakan terlalu banyak yang dibuat dari data inflasi AS yang lebih dingin minggu lalu.

Akibat nilai dolar yang lebih kuat, membuat komoditas berdenominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, dan cenderung membebani minyak dan aset-aset berisiko lainnya.

Dalam pada itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini dan tahun depan, dengan alasan hambatan ekonomi.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

X