• Rabu, 30 November 2022

Transisi Energi Dinilai Stagnan, Faisal Basri: Biaya Energi Terbarukan di Indonesia Mahal

- Kamis, 24 November 2022 | 21:04 WIB
Perugas PLN lakukan pemeriksaan listrik
Perugas PLN lakukan pemeriksaan listrik

Watyutink.com - Faisal Basri, Ekonom Senior INDEF, mengungkapkan tren transisi energi di level global menunjukkan kenaikan, namun di Indonesia masih stagnan.

“Data membuktikan bahwa biaya renewable energy dunia cenderung menurun, tetapi anehnya di Indonesia justru mahal, tentu ada yang salah,” kata Faisal dalam diskusi publik bertajuk “Masa Depan Sektor Ketenagalistrikan di Pusaran RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan” di Jakarta, Rabu (23/11/2022).

Menurut Faisal, energi surya dalam bentuk pembangkit listri tenaga surya (PLTS) terus dimanfaatkan negara-negara dunia antara lain di China, Jepang, Jerman, Amerika, India. Tetapi Indonesia masih kecil sekali pemanfaatan PLTS, bahkan lebih kecil dibandingkan Vietnam.

Padahal, menurut Faisal, berbagai negara yang berhasil menurunkan emisi memperlihatkan dampak postif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dalam diskusi tersebut terungkap, langkah strategis pemerintah bersama DPR RI dalam mendorong transisi energi bersih di Indonesia dilakukan melalui penyusunan draft Rancangan UndangUndang (RUU) Energi Baru dan Terbarukan (EBET).

Draf RUU EBET merupakan inisiatif DPR RI dan telah disampaikan kepada pemerintah pada 29 Juni 2022. Namun, sampai saat ini pemerintah belum juga menyampaikan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) atas RUU tersebut meskipun telah melewati tenggat waktu pada 27 Agustus 2022.

Di satu sisi, kehadiran UU EBET itu nantinya diharapkan akan menjadi kebijakan pamungkas yang dapat mengakselerasi peningkatan bauran energi bersih. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran adanya upaya membuka lebar ruang liberalisasi sektor ketenagalistrikan melalui skema power wheeling atau pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik baik infrastruktur transmisi maupun distribusi.

Abra Talattov, Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development (CFESD) INDEF yang juga menjadi pembicara pada diskusi tersebut mengatakan, transisi energi perlu didukung sebagai wujud komitmen terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

“Namun, ambisi dalam mendorong transisi energi sudah seharusnya dilaksanakan secara rasional, bertahap, dan terukur dalam rangka menjaga ketahanan dan kedaulatan energi nasional,” ujar Abra.

Transisi energi di Indonesia, menurut Abra, menghadapi tantangan besar berupa missmatch antara pasokan dengan permintaan listrik sehingga menimbulkan kondisi oversupply yang besar.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

X