• Selasa, 31 Januari 2023

BI Ungkap Sejumlah Indikator Stabilitas Nilai Rupiah, Ini Penjelasannya

- Jumat, 25 November 2022 | 20:32 WIB
Gedung BI (Situ BI/bi.go.id/id/publikasi)
Gedung BI (Situ BI/bi.go.id/id/publikasi)

Watyutink.com – Bank Indonesia mengungkapkan perkembangan sejumlah indikator stabilitas nilai rupiah yang terdiri atas indikator nilai tukar dan inflasi.

“Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik yang terdiri atas indikator nilai tukar dan inflasi,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam siaran pers Jumat (25/11/2022).

Menurut Erwin, perkembangan tersebut meliputi perkembangan nilai tukar periode 21 – 25 November 2022. Pada akhir Kamis (24/11/2022) rupiah ditutup pada level (bid) Rp15.663 per dolar AS, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun turun ke 6,94 persen, DXY melemah ke level 106,08, dan yield US Treasury (UST) Note 10 tahun turun ke level 3,693 persen.

Perkembangan berikutnya, Erwin mengungkapkan, Jumat pagi (25/11/2022) rupiah dibuka pada level (bid) Rp15.640 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun naik ke 6,65 persen.

Selanjutnya menyangkut perkembangan aliran modal asing pada minggu keempat November 2022. Dilaporkan premi CDS Indonesia 5 tahun turun ke 98,52 bps per 24 November 2022 dari 108,61 bps per 18 November 2022.

Berdasarkan data transaksi 21 – 24 November 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp11,71 triliun terdiri dari beli neto Rp9,72 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp1,99 triliun di pasar saham.

Selama tahun 2022, berdasarkan data setelmen s.d. 24 November 2022, nonresiden jual neto Rp165,71 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp75,40 triliun di pasar saham.

Mengenai perkembangan inflasi Erwin mengatakan, berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu keempat November 2022 diperkirakan terjadi inflasi sebesar 0,18 persen (mtm).

Komoditas utama penyumbang inflasi November 2022 sampai dengan minggu ke empat yaitu telur ayam ras dan tomat masing-masing sebesar 0,03 persen (mtm), daging ayam ras, air kemasan, emas perhiasan, dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm), tempe, jeruk, sawi hijau, tahu mentah, beras, dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).

Sementara itu, sejumlah komoditas yang menyumbang deflasi pada periode ini yaitu cabai merah sebesar -0,09 persen (mtm), cabai rawit sebesar -0,03 persen (mtm), serta bawang putih dan angkutan udara masing-masing sebesar -0,01 persen (mtm).

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

CIMB Niaga Finance Terbitkan Sukuk Rp1 Triliun

Selasa, 10 Januari 2023 | 11:06 WIB

Indonesia Diminta Berhati-hati Kelola Makro Ekonomi

Kamis, 22 Desember 2022 | 14:49 WIB

BI: Penyaluran Kredit Baru Meningkat November 2022

Senin, 19 Desember 2022 | 15:07 WIB
X