• Jumat, 7 Oktober 2022

Indonesia Edu-Ekopol Outlook 2020~

- Selasa, 24 Desember 2019 | 19:30 WIB
Nusantara Centre Indonesia
Nusantara Centre Indonesia

Di luar itu, kita juga mengalami darurat tatakelola. Ini juga rumit karena terjadi kesemerawutan pengelolaan antara pusat dan daerah juga lintas kementrian. Tentu, semua itu mengganggu jalannya roda kebudayaan dan pendidikan: baik dalam kurikulum, guru, pelatihan-pelatihan, advokasi, anggaran, dan lain-lain.

Kesemerawutan ini berbahaya karena kebudayaan dan pendidikan adalah satu-satunya kegiatan manusia yang paling banyak berurusan dengan masa depan. Dengan kesemrawutan ini, jalan pembangunan kebudayaan dan pendidikan sangat terganggu.

Akibatnya, kita mempertaruhkan masa depan anak-anak: masa depan bangsa. Tentu ini membahayakan masa depan kita semua. Sebab pembangunan kebudayaan dan pendidikanlah yang menyiapkan generasi penerus untuk bisa survive di masa depan, tempat setiap mahluk akan menjalani sisa hidupnya.

Jika kemenag yang sama-sama mengelola sekolah diijinkan sentralistik maka mengapa kemendikbud tidak? Ini juga pertanyaan penting mengingat pembangunan kebudayaan dan pendidikan itu perintah konstitusi.

Maka buat langkah, segera terbitkan SKB beberapa kementrian untuk mengurai kesemerawutan ini dan buat solusi kongkritnya. Jika perlu, terbitkan perpu karena darurat situasinya.

Tentu saja, pembenahan tatakelola menjadi salah satu kuncinya dalam perbaikan pembangunan kebudayaan dan pendidikan nasional.

Dalam tata kelola ini, kurikulum inti hendaknya disederhanakan menjadi Trimatra Pendidikan Dasar dan Menengah (Kebangsaan-Etika-Logika). Realisasi trimatra pendidikan bukan sebatas tugas pemerintah, namun partisipasi aktif masyarakat juga harus dilibatkan secara terus menerus dan sistematis. Itulah tugas kita semua sebagai warganegara. Ini juga membuktikan bahwa kewarganegaraan perlu lebih ditonjolkan dibanding kewargaan.

*

World Bank (WB) pada awal tahun 2019 menerbitkan review yang merujuk ke hasil PISA 2015 yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia tidak siap menghadapi era Revolusi Industri (RI) 4.0 bahkan 2.0.

Terbukti, hasil uji Indonesia National Assesment Program (INAP) yang kemudian disebut Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) menguatkan kecemasan berbagai pihak karena 78% siswa SD kelas 4 memiliki kompetensi Matematika, Sains dan Membaca yang buruk.

Halaman:

Editor: Pril Huseno

Terkini

Bhinneka Culture Festival

Selasa, 27 September 2022 | 10:45 WIB

Krisis Iklim Dapat Sebabkan Krisis Kopi

Kamis, 8 September 2022 | 14:00 WIB

BBM Naik, Rakyat Tercekik

Rabu, 24 Agustus 2022 | 15:20 WIB

CIMB Niaga Finance Luncurkan Kampanye #DemiKamu

Rabu, 24 Agustus 2022 | 12:30 WIB

Orasi Kebudayaan Erros Djarot

Rabu, 6 Juli 2022 | 16:00 WIB

Perkembangan Terkini Virus Corona (COVID-19)

Senin, 6 Juni 2022 | 06:00 WIB

Green Faith for Earth Day

Selasa, 26 April 2022 | 16:00 WIB

SYIAR RAMADAN DI KAMPUS UNIVERSITAS INDONESIA

Kamis, 21 April 2022 | 10:00 WIB

Derma Semeru Melalui Kuliner Nusantara

Senin, 3 Januari 2022 | 10:45 WIB

EVALUASI DAN OUTLOOK 2022 EKONOMI POLITIK INDONESIA

Rabu, 29 Desember 2021 | 10:15 WIB
X