BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara
Ada Cacat Skenario dalam Peristiwa Ditolaknya Gatot

Reverse psychology acapkali dilakukan sebagai bagian dari desepsi untuk mengecoh musuh dan itu biasa biasa saja.

Tentu agar pesannya tersampaikan dengan kuat dan jelas maka pola pemunculan di panggung ala "dramatic entrance" memang harus dilakukan penuh aksi teatrikal dan dramatisasi adegan yang mengharubiru sehingga menjungkirbalikan semua logika akal sehat dan akhirnya semua jadi terkecoh.

Tapi buat yang tetap menjaga kewarasan akal sehat, mudah bisa melihat cacat skenario yang terkesan sedikit memaksa. Lihat saja betapa naif dan lucunya ketika mengamati situasi di TKP ketika petugas bandara atas arahan Kantor Imigrasi Amerika menolak keberangkatan Panglima TNI di saat sudah berada di bandara bersiap untuk boarding.

Tidak mungkin sekelas Panglima TNI tiba tiba bertindak sanguinis seenaknya sendiri berangkat mendadak tanpa rencana hanya sekadar sesuatu yang "pop-up" di benaknya. Pasti terbayangkan bagaimana proses protokoler seorang sekelas Panglima TNI ketika akan berangkat secara resmi keluar negeri untuk urusan kenegaraan.

Dari mulai penjadwalan keberangkatan hingga segala tetek bengek administratif tentunya sudah dikorespondensikan terlebih dulu secara resmi, terintegrasi dan saksama di berbagai level tingkatan birokrasi dengan pihak pemerintah negara yang akan dikunjungi via Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, juga melalui Kedutaan Besar Indonesia di Amerika Serikat. Jadi sangat kecil kemungkinan rasanya tiba tiba terjadi adegan dramatis berbau komedi situasi yang terkesan wagu atas Panglima TNI saat akan boarding di bandara.

Mereka yang hobi berpikir konspiratif pasti mengangguk angguk setuju dan ikut emosional atas apa yang ditulis dengan lugas dan bernas oleh watyutink.com. Sayangnya apa yang disampaikan luput menyertakan satu variabel penting dalam analisisnya.

Ada satu variabel data yang harusnya dipastikan lebih dulu. Pertama, apakah benar Panglima TNI berangkat ke Amerika Serikat dalam rangka penugasan secara resmi untuk urusan negara? Atau keberangkatan Panglima TNI ke AS untuk urusan pribadi yang sama sekali tidak ada urusan kenegaraan secara bilateral antara Indonesia dan AS?

Jika keberangkatan Panglima TNI karena alasan yang pertama, tentu saja saya dapat memahami pemaparan watyutink.com. Saya pun juga dapat memahami bahwa apa yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat cq Imigrasi AS terhadap Panglima TNI adalah bentuk penghinaan terhadap daulat dan harkat martabat Indonesia.

Tetapi jika keberangkatannya untuk alasan kedua, tentu ini bukan masalah yang harus diheboh karena Gatot Nurmantyo berangkat ke AS sebagai Gatot Nurmatyo yang sipil dan sama sekali bukan sebagai Panglima TNI.

Artinya, yang ditolak keberangkatannya oleh imigrasi Amerika adalah Gatot Nurmantyo yang sipil dan sah-sah saja apapun alasannya. Namun yang menarik justru muncul pertanyaan, untuk urusan apa sesungguhnya keberangkatan Gatot Nurmantyo ke Amerika Serikat sampai sampai pemerintah negara tersebut harus melarangnya?

Pertanyaan kedua, apa sesungguhnya dasar hukum yang membenarkan Kantor Imigrasi Amerika boleh memerintah petugas bandara di wilayah yurisdiksi hukum Indonesia untuk melarang siapapun (termasuk Panglima TNI) berangkat keAS?

Bukankah itu yang seharusnya dipertanyakan? (jim)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF