BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Aktivis kebudayaan Betawi
Ada Oknum Tertentu Memanfaatkan Ondel-ondel

Kesenian tradisional ondel-ondel telah ada sejak zaman pra-Islam, zaman kerajaan Hindu-Buddha. Waktu itu ondel-ondel diarak keliling kampung, sebagai bagian dari acara sedekah bumi (baritan). Biasanya sebagai penolak bala dalam acara sedekah bumi untuk persembahan bagi Dewi Sri, dewi padi. Kesenian itu berlangsung terus hingga ke zaman Islam.

Sebagai penolak bala, ondel-ondel dipertunjukan sebagai pertunjukan luar ruang bila ada wabah di suatu kampung, misalnya di kampung itu terdapat wabah muntaber atau cacar. Biasanya, kepala kampung memanggil orang yang dituakan pemilik kesenian ondel-ondel untuk keliling kampung, agar wabah penyakit pergi. Ada upacara ngukup, pembakaran kemenyan, serta pembacaan mantra. Mantra-mantra yang diucapkan tak ada hubungannya dengan Islam, tapi setelah Islam masuk mantranya diubah jadi doa-doa. 

Sebetulnya, di zaman kolonial Belanda, kesenian tradisional diberi ruang untuk mengamen. Bahkan mereka dikenakan pajak, yang jadi pendapatan asli daerah kota Batavia. Dari foto-foto lama, misalnya, terlihat saat acara peletakan batu pertama gedung yang kini jadi Museum Bank Mandiri di kawasan kota tua dahulu ada arak-arakan pakai ondel-ondel, istilahnya "barung" atau "barungan", bahasa Betawi lama yang berarti rombongan, membawa kepala kerbau, yang dikatakan sebagai memberi "gratifikasi" pada makhluk halus. Waktu itu, orang-orang Belanda juga percaya pada kepercayaan gaib begitu.  

Namun, kalau menengok ondel-ondel dipakai mengamen sekarang yang bikin miris itu caranya. Mereka tak pakai aturan. Yang saya tidak setuju, pertama, pengamen berpenampilan dekil dan urakan, berpakaian sobek-sobek,pakai anting-anting. Kedua, kurang menghargai keselamatan jiwa, karena mereka ngamen di jalan raya; ketiga, tidak menghargai orang lain, pengendara mobil atau kendaraan umum di jalan raya dan berdampak macet. Di sini termasuk tidak tahu adat sopan santun pada waktu-waktu tertentu. Misalnya ketika ngamen di kawasan perkampungan, saat azan apakah Asar, Maghrib, atau Isya mereka terus ngamen.        

Saya mensinyalir ada oknum tertentu yang memanfaatkan ondel-ondel. Misalnya, oknum ini melihat ada peluang ekonomi mengamen dari ondel-ondel, maka ia beli beberapa pasang, dan harganya tak mahal (Rp5 jutaan sepasang), lalu merekrut pemuda tanggung jadi pengamen ondel-ondel. Sewaktu pengamen ondel-ondel marak, saya kumpulkan sanggar-sanggar binaan kami. Ada 12 sanggar yang dibina Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan semua bilang, "Bukan, Bang, itu (yang ngamen) bukan kami." Sampai tahun 2010-an, yang pengamen ondel-ondel masyarakat Betawi. Masih pakai musik asli. Tapi ke sini-sini bukan asli Betawi. Dan mereka tak pakai rekaman kaset. Itu yang saya tentang. 

Jadi, saya mengusulkan kepada Pemerintah Daerah membina mereka. Dengan cara diberi dana pembinaan yang saya namakan program BOS (Biaya Operasional Sanggar). Nggak besar. Cukup Rp1 juta saja sebulan. Mereka yang ngamen ini kita rangkul. Kita didik, beritahu aturan pertunjukan ondel-ondel seperti apa. Sebab, kalau misalnya ditertibkan, ondel-ondeknya direbut paksa lalu dibakar, itu melanggar HAM. Yang penting harus kita bina mereka. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus