BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia
Ajaran tentang Logika, Etika dan Empiricism harus jadi prioritas bangsa Indonesia

Sesungguhnya saat ini diskursus tentang pemerintahan yang dipimpin oleh mantan tokoh militer sangat janggal dan sebuah oxymoron atau pemikiran yang tidak ada artinya seakan akan pandangan Rene Girard yang dianut.

Rene Girard: " Dikutip dari Wikipedia"

Ide dasar Girard, yang telah dikembangkannya sepanjang karirnya dan memberikan dasar pemikirannya, adalah bahwa keinginan itu mimetik (yaitu semua keinginan kita dipinjam dari orang lain), bahwa semua konflik berasal dari keinginan mimetik (persaingan mimetik), bahwa mekanisme kambing hitam adalah asal mula pengorbanan dan fondasi budaya manusia, dan agama diperlukan dalam evolusi manusia untuk mengendalikan kekerasan yang bisa berasal dari persaingan mimetik, dan bahwa Alkitab mengungkapkan gagasan ini dan mencela mekanisme kambing hitam.

Karena persaingan mimetik yang berkembang dari perjuangan untuk menguasai benda-benda itu menular, hal itu mengarah pada ancaman kekerasan. Girard sendiri mengatakan, "Jika ada tatanan normal di masyarakat, itu pasti buah dari krisis anterior." Mengubah minatnya terhadap domain antropologi, Girard mulai mempelajari literatur antropologi dan mengusulkan hipotesis besarnya yang kedua: proses pengorbanan, yang merupakan asal mula agama kuno dan yang dia tunjuk dalam buku keduanya Violence and the Sacred (1972).

Jika dua individu menginginkan hal yang sama, akan segera ada yang ketiga, lalu yang keempat. Proses ini secepat bola salju. Karena sejak awal keinginan terangsang oleh yang lain (dan bukan oleh objek), objek tersebut segera terlupakan dan konflik mimetik berubah menjadi antagonisme umum. Pada tahap krisis ini, antagonis tidak akan lagi meniru keinginan masing-masing untuk suatu objek, namun antagonisme masing-masing. Mereka ingin berbagi objek yang sama, tapi sekarang mereka ingin menghancurkan musuh yang sama. Jadi, sebuah paroksisme kekerasan cenderung berfokus pada korban sewenang-wenang dan antipati yang bulat akan, secara mimetis, tumbuh melawan dia. Penghapusan korban secara brutal akan mengurangi nafsu makan untuk kekerasan yang dialami setiap orang beberapa saat sebelumnya, dan membuat kelompok tersebut tiba-tiba merasa tenang dan tenang. Korban terletak di depan kelompok tersebut, muncul bersamaan sebagai asal mula krisis dan sebagai orang yang bertanggung jawab atas keajaiban perdamaian baru ini. Dia menjadi suci, artinya pembawa kekuatan luar biasa untuk meredakan krisis dan membawa perdamaian kembali. Girard percaya ini adalah asal usul agama kuno, pengorbanan ritual sebagai pengulangan peristiwa asli, mitos sebagai catatan peristiwa ini, tentang tabu yang melarang akses ke semua objek pada asal mula persaingan yang merosot menjadi Krisis ini sungguh traumatis. Pengelompokan agama ini berlangsung secara bertahap selama pengulangan krisis mimetik yang resolusi hanya membawa perdamaian sementara. Penjelasan tentang ritus dan tabu merupakan semacam pengetahuan empiris tentang kekerasan. Karena percaya akan kekerasan dan kesucian maka perlu militer atau mantan tentara sebagai penjaga mimetic rivalry. 

Padahal kalau kita mengacu pada humanism

“Humanism is a progressive philosophy of life that, without theism and other supernatural beliefs, affirms our ability and responsibility to lead ethical lives of personal fulfillment that aspire to the greater good of humanity.”

Kehidupan etis jadi utama dan untuk menjaganya perlu ilmu pengetahuan yang mengajarkan logika, etika dan empiricism. Dari situlah lahir norma-norma yang menjadi aturan hukum yang dirunut. Karena hanya kehidupan asli yang mengikuti hukum alam menurut Girard dalam “Violence and the Sacred”

Masyarakat kita yang baru belajar kebebasan harus lebih berani menempuh cara damai untuk mengembangkan pengetahuan. Bukan memberikan peran tertinggi pada pemerintahan yang mengandalkan kekerasan dari para eks jenderal.

Rakyat Indonesia hanya perlu dipacu kecerdasannya untuk bisa secara mandiri menjaga kedamaian dan menghindarkan diri dari pemikiran akan terjadi kekerasan yang didorong oleh parpol dan politisi yang kurang bertanggung jawab.

Rakyat harus yakin akan kemampuannya menjadi orang yang bertanggung jawab akan kehidupannya.

(cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik