BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Antisipasi Lewat Bauran Kebijakan Fiskal – Moneter

Dilatarbelakangi oleh laporan Bank Dunia, pemerintah perlu mewaspadai risiko resesi ekonomi global yang dikhawatirkan terjadi pada 2021. Kondisi ekonomi global memang menuju perlambatan sejak tahun lalu.

Hal itu terlihat sejak arus investasi dan perdagangan global yang melambat akibat perang dagang. Ditambah kebijakan moneter The Fed yang lebih longgar demi mendorong ruang pertumbuhan lebih tinggi.

Kondisi perekonomian global pada triwulan II 2019 diperkirakan mengalami perlambatan. Hal ini tercermin dari data industri serta perdagangan di pasar global yang cenderung melemah.

Meskipun kondisi ekonomi beberapa negara sebagai mitra dagang Indonesia masih tumbuh positif, tetapi tetap Indonesia perlu mengantisipasinya dan tidak boleh lengah dengan kondisi ekonomi global yang tidak bisa diprediksi ini.

Mitra dagang seperti Tiongkok tumbuh 6,2 persen  pada triwulan II 2019 (Q2/19), lebih lambat dibandingkan 6,7 persen (Q2/18), dan 6,4 persen (Q1/19). Demikian juga AS yang kian melambat menjadi 2,3 persen (Q2/19) dari 3,2 persen (Q2/18), dan 2,7 persen (Q1/19).

Singapura juga melambat menjadi 0,1 persen (Q2/19), lebih rendah dibandingkan 4,2 persen (Q2/18) dan 1,1 persen (Q1/19). termasuk juga Korea Selatan melambat menjadi 2,1 persen (Q2/19) dari 2,9 persen (Q2/18), namun lebih tinggi dibandingkan 1,7 persen  pada Q1 2019.

Tentu saja kondisi ini akan mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun 2019 (year  on year) berdasarkan data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai  5,05 persen. Raihan tersebut tercatat tumbuh dibandingkan dengan triwulan II pada 2018. Jika diperhatikan bahwa Q2 pada 2018-2019,  menunjukkan bahwa terjadi penurunan laju pertumbuhan (q to q) meskipun hanya sebesar 0.01 persen.

Apabila diperdalam lagi, pertumbuhan PDB  berdasarkan indikator dalam hitungan tahunan (persen), pada sisi pengeluaran; ekonomi Indonesia triwulan II 2019 dibanding triwulan II 2018 tumbuh 5,05 persen (y-on-y). Ternyata pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 10,73 persen.

Apabila dilihat dari aspek produksi; pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 10,73 persen.

Jika diperdalam lagi dalam kontek struktur dan pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha per triwulan II 2019 menunjukkan bahwa struktur PDB yang memberi kontribusi ketiga pertama terbesar adalah Industri, pertanian, dan perdagangan.

Tetapi lapangan usaha yang memberikan kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan  PDB  adalah sektor jasa lainnya, TIK, dan jasa perusahaan. Dengan kondisi capaian perekonomian tersebut, apakah akan terjadi resesi di Indonesia?

Terjadinya resesi di Indonesia sangat tergantung pada beberapa indikator: 1) keadaan ekonomi AS.2) kebijakan pemerintah Trump tentang trade dan currency war serta kebijakan the Fed. 3) Siklus 10 tahunan ekspansi ekonomi AS yang sekarang ini sudah lebih dari 10 tahun dan masih belum terjadi konstraksi.

Ditambah lagi kondisi bunga investasi jangka panjang di bond pemerintah lebih rendah dari jangka pendek. Artinya imbal balik investasi akan cenderung bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa akan terjadi pesimisme terhadap ekonomi panjang, juga pertanda resesi ke depan

Beberapa permasalahan yang dihadapi saat ini adalah, pertama, sulitnya ekonomi dalam negeri mencapai pertumbuhan sebesar 6-7 persen. Disebabkan salah satunya oleh optimalisasi dan keseriusan dalam peningkatan industri manufaktur nasional yang hingga saat ini belum berkembang dan sesuai harapan.

Kedua, hilirisasi. Sektor industri manufaktur digenjot agar target 5,3 persen pertumbuhan ekonomi tercapai dengan pemenuhan pasar domestik dan perbaikan pasar ekspor; Ketiga, konsumsi dinaikkan dengan harapan menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak terlalu mengandalkan ekspor di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu. Keempat, kondisi neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan (CAD) Indonesia defisit.

Untuk mengantisipasi efek ekonomi global dan domestik yang sangat resisten terhadap perbaikan ekonomi saat ini adalah dengan melakukan strategi , sinergi kebijakan agar efektif dalam menghadapi ancaman krisis. Harus dilakukan optimalisasi kebijakan fiskal dan moneter.

Dari sisi kebijakan fiskal, strategi  yang dijalankan sebagai berikut: (1) Peningkatan penanaman modal LN (FDI) yang terkendali sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan produktivitas hilirisasi terutama industri manufaktur yang mampu mendorong supply-driven baik domestik maupun pasar LN yakni yang berkontribusi terhadap penurunan CAD yang masih defisit.

(2) Mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur yang dibangun baik pembangkit listrik, jalan raya bebas hambatan, dan airport untuk mendorong perbaikan produksi agregat.

(3) Melakukan perbaikan iklim investasi domestik melalui perbaikan regulasi dengan cara menginventarisasi regulasi-regulasi atau aturan-aturan yang menghambat dan memperlambat terhadap kemudahan berinvestasi.

 (4) Memberikan berbagai insentif dan kemudahan fiskal bagi investor dalam negeri terutama yang akan berinvestasi di industri manufaktur dalam mendongkrak sisi penawaran, seperti salah satunya dengan melakukan penurunan tarif PPh Badan

Adapun dari sisi kebijakan moneter, dengan melakukan: (1) melakukan pengendalian terhadap nilai tukar US terhadap Rupiah. Artinya perlu mendorong perbaikan neraca pembayaran agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terkendala tekanan nilai tukar yang berasal dari kegiatan impor.

 (2) Adanya kenaikan harga komoditas akibat tingginya inflasi, Bank Indonesia perlu melakukan optimalisasi inflasi targeting dengan stabilisasi volatilitas harga dengan mengefektifkan kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terutama barang-barang yang kontribusi terhadap inflasi tinggi

 (3) Kebijakan makro-prudential yang efektif dan pruden. Dengan cara Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan hingga efektif dan prudent. Harapannya Bank Indonesia menurunkan hingga pada besaran 5 persen.

Dari uraian di atas, maka implikasinya adalah perlu dilakukan sinergitas policy-mix; yaitu antara ekspansi fiskal dan ekspansi moneter secara sinergis dalam kurun waktu yang bersamaan. Bank Indonesia dan Pemerintah perlu duduk bersama dan melakukan antisipasi resesi ini, tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi jangka panjang.

Kebijakan policy-mix yang dihasilkan dan diimplementasikan akan mendorong terhadap pertumbuhan ekonomi sesuai yang ditargetkan tahun ini yaitu sebesar 5,3 persen. Apabila tidak tercapai, tentu  resesi akan menghampiri Indonesia, suka tidak suka. (sar)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja