BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia
Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu

Secara psikologis ada tempat yang nyaman dan tidak nyaman. Ada tempat yang netral dan tidak netral. Pertemuan kan tidak harus di kediaman Prabowo atau Jokowi. Di manapun bisa, yang penting tempatnya nyaman dan enak. Termasuk di stasiun MRT Lebak Bulus. 

Mungkin dipilihnya stasiun MRT Lebak Bulus, sebagai tempat titik mulai sejarah peradaban bangsa. Karena MRT menjadi dimulainya sejarah peradaban itu. Dan bisa jadi pertemuan disana, menjadi awal mula sejarah persatuan antara Prabowo dan jokowi serta pendukung-pendukungnya. 

Tafsir politik bisa macam-macam. Dan bisa kemana-mana. Namun apapun tafsir dari masyarakat harus kita hargai. Stasiun MRT Lebak Bulus menjadi tempat netral yang bisa diterima kedua belah pihak. Dan menjadi tempat yang baik dan positif untuk merajut kebersamaan, sambil memperkenalkan alat transportasi publik ke masyarakat. 

Apapun tafsirnya kita harus berbangga kepada dua tokoh tersebut yang telah mau saling menyapa dan saling bercanda yang penuh tawa. Di manapun tempat pertemuannya pasti akan dimaknai dan ditafsirkan macam-macam. Yang terpenting mereka sudah bertemu. Sudah menjadi pintu masuk untuk melakukan rekonsiliasi. 

Buat saya tak  ada yang namanya penumpang gelap. Semua adalah bagian dari rakyat Indonesia. Hanya beda pandangan saja. Beda pendapat saja. Dan beda pilihan saja. Tak ada tempat bagi khilafah di negeri ini. Tak boleh juga ada yang akan mendirikan khilafah di republik ini. 

Soal menelikung demokrasi atau tidak itu urusan mereka. Yang pasti dan yang jelas, Prabowo-Sandi cinta Pancasila dan NKRI harga mati. Yang diperlukan, kedewasaan berpolitik bagi masyarakat. 

Demokrasi itu harus menghormati yang menang. Sekaligus juga menghargai yang kalah. Kalah menang dalam kontestasi demokrasi itu soal biasa. Yang menang, jangan jumawa. Dan yang kalah jangan kecewa. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar