BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sekjen Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (Abilindo)
Bangun Dulu Ekonomi Rural

Mengapa tol laut tidak berjalan sebagaimana diharapkan? Karena pemerintah nampaknya belum atau lupa membangun ekonomi RURAL. Saat ini exposure APBN maupun pembangunan infrastrukturnya berat ke URBAN.

Karena 55 persen angkatan kerja kita hanya lulus SD. Pembangunan ekonomi kita tidak bisa mengandalkan pada manufacturing semata. Kita harus mengandalkan ekonomi sumber daya alam hayati, yakni Aquaculture, Perkebunan, Pertanian dan Peternakan dan industri hilirisasinya.

Untuk itu infrastruktur dan ekonomi RURAL harus dibangun dan dikembangkan.

Pembangunan ekonomi tidak bisa ditunda karena perut lapar tidak bisa menunggu. Pemerintah telah mengambil langkah yang keliru dengan mendahulukan pembangunan infrastruktur dan melupakan pembangunan ekonomi RURAL.

Strategi yang jitu harus mengedepankan pembangunan ekonomi dan pembangunan infrastuktur harus menyesuaikan dengan kebutuhan pembangunan ekonomi regional dan nasionalnya dan bukan sebaliknya.

Jika ekonomi RURAL berbasis sumber daya alam hayati dikembangkan, maka penghasilan warga desa sekitar Rp 17 juta per bulan, atau setara 1.150 dolar AS per bulan, sangat mungkin dicapai, sehingga kesejahteraan warga desa kita akan setara rata-rata warga pekerja di Singapura.

Selanjutnya tanpa harus diminta dan tanpa di dorong dengan program transmigrasi pemerintah pun, dengan sendirinya warga marginal URBAN akan pulang ke RURAL dan membangun ekonomi desa, karena hidup di RURAL/desa lebih sejahtera dan membahagiakan dibanding hidup di kota/URBAN.

Seperti sudah saya tulis dalam artikel saya di harian Bisnis Indonesia, tanggal 23 Juni 2018, ekonomi aquculture berpotensi menghasilkan devisa sebesar 240 miliar dolar AS per tahun, dengan produksi 60 juta ton per tahun, dari 110 komoditas.

Potensi devisa dari aquaculture 12 kali lebih besar dibanding dari perikanan tangkap dan 12 kali lebih besar di banding sawit. Saat ini sawit dan oleo kimia adalah penghasil devisa nomer satu Indonesia, mengalahkan migas, minerba dan manufacturing.

Prof.Dr. Bungaran Saragih, dalam acara TV, pernah menyatakan aquaculture akan menjadi revolusi agribisnis Indonesia ketiga setelah poultry dan sawit.

Pembahasan tol laut pada awalnya mungkin tidak sempat membahas hal tersebut di atas karena politisi Indonesia itu lain yang dipikirkan, lain yang diucapkan lain pula yang dikerjakan. Tidak punya konsistensi karakter.

Kenapa ekonomi perikanan yang dijanjikan SBY "akan menjadikan Maluku lumbung ikan nasional" tidak juga diwujudkan oleh pemerintahan Jokowi?

Keterpaduan konsep dan kematangan strategi pembangunan dapat diwujudkan jika pimpinan nasional punya konsistensi karakter, kemampuan leadership, kapasitas sehingga menghasilkan visi dan strategi yang jitu.

Jerman bisa menjadi negara maju dan makmur karena semua Kanselirnya bergelar “PhD” berkaliber dunia. Kanselirnya mampu merancang, melaksanakan dan mengawasi pembangunan ekonomi negara.

Ke depan, bangsa Indonesia harus segera membangun KAIT (Kawasan Agro Industri Terpadu Pedesaan) di 500 kabupaten Indonesia untuk menggerakkan ekonomi RURAL berbasis aquculture, perkebunan, pertanian dan peternakan.

Saya memimpikan penduduk Sumatra akan menjadi 130 juta dan pulau Jawa menjadi 40 juta, karena akan semakin banyak warga URBAN yang akan pergi ke desa dan pelosok untuk membangun ekonomi aquaculture, perkebunan, pertanian, peternakan dan hilirisasi industrinya seperti sudah di mulai di KEK Sei Mangkei, Sumatra Utara dengan infrastruktur pelabuhan internasional Kuala Tanjung.

Jika terwujud, maka cita2 almarhum Prof.Dr. Sarbini Soemawinata, anggota Partai Sosialis Indonesia, yang sudah beristirahat dengan damai di pemakanan Jeruk Purut, Kemang, Jakarta Selatan akan tercapai.

Membangun ekonomi digital tanpa didukung sektor riel yang kuat hanya akan memperbesar Impor dan menguras devisa Negara. Millenials pendiri ekonomi digital bukan economist, mereka tidak paham bahaya ekonomi digital tanpa dukungan sektor riel dalam negeri yang kuat. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI