BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dermatologist, Kritikus film, kolektor film dan memorabilia, wartawan film dan kesehatan harian Waspada 
Black Panther Mendobrak Segmentasi `Black Movies`

Bicara representasi Afrika-Amerika atau lebih populer disebut “black movies” dalam kultur sinema, kita harus melihat sejarahnya. Upaya-upaya diversity ini sudah lama dilakukan dan beberapa di antaranya malah berhasil mencatat sejarah bukan saja dalam masalah penerimaan, tapi juga di ajang-ajang awarding seperti Academy Awards.

Namun salah satu tonggaknya memang ada di arus blaxploitation di era’70-an, yang membuat etnisnya mengeksplorasi identitas mereka sendiri terhadap berbagai genre dari action, martial arts hingga horor, juga merambah Asia dengan status well-known atas beberapa nama aktor kulit hitam seperti Fred Williamson, Jim Kelly, atau Richard Roundtree.

Kultur ini semakin berkembang di akhir ’80 ke awal ‘90-an yang bisa dikatakan awal kebangkitan sinema mereka lewat nama-nama sineas Spike Lee dan John Singleton. Membawa representasi kultur yang lebih kuat dalam relevansi-relevansi sosial, mereka juga menunjukkan bahwa pangsa pasarnya memang ada; dengan sejumlah film dalam segmentasi black movies yang selalu bisa menempati posisi teratas box office di minggu pertama perilisannya. 

Di era ini pula, selain semakin banyak aktor berkulit hitam yang bisa diterima jauh lebih luas, mulai muncul film-film superhero kulit hitam seperti The Meteor Man dan Blankman (yang terakhir ini lebih mengarah ke komedi), namun segmentasinya masih sangat terbatas ke ranah black movies.

Selanjutnya muncul Spawn, Blade, Catwoman, dan Hancock di ranah yang lebih diverse – bukan lagi di segmentasi black movies. Namun film-film ini memang hanya menempatkan identitas karakter ketimbang representasi kultur. Saat perjuangan-antirasisme kemudian semakin mendapat dukungan dan kesadaran luas di zaman Obama, era Trump membawa kultur sinema ini menjadi sebuah perlawanan secara lebih besar lagi, termasuk dalam gerakan menggugat Oscars So White.

Di situlah lantas Black Panther menjadi sangat relevan. Di saat tetap banyak film yang menjual karakter kulit hitam semata hanya untuk menggaet pangsanya, sebagai elemen penting di MCU, Kevin Feige (bos Marvel Studio) membawa konsep representasi benar-benar terasa bukan sebagai latar atau sempalan. Ia memang tetap berada di pakem film superhero Marvel, namun juga punya kehebatan konsep yang membuat Marvel selalu bisa menghadirkan introduksi kuat terhadap karakter-karakter superhero-nya. 

Walau tetap bermain di ranah fantasi, kerajaan fiktif Wakanda mampu mereka jadikan latar relevan untuk merepresentasikan kultur Afrika secara keseluruhan di atas diversifikasi bentukan karakter multi-dimensional dan ketepatan cast-nya. Masing-masing punya background, motivasi dan perubahan terhadap plot yang jelas berbicara soal bentrokan pola pikir lintas generasi, juga memuat ide pemberdayaan perempuan etnisnya dengan kuat. Ini bukan saja jadi sebuah pencapaian lebih buat MCU, tapi juga menempatkan etnis mereka dengan penuh respek.

Dan terlebih dalam genre superhero, Black Panther juga berhasil menyajikan mimpi tak hanya bagi etnisnya, tapi juga golongan yang ada di garis-garis minoritas lainnya. Bahwa gambaran Wakanda yang sekilas terlihat terbelakang namun secara tersembunyi punya teknologi super dan lantas menjadi inti konflik buat menentukan arah penggunaannya, dengan sendirinya membuat semangat kepahlawanan dalam konsep dasar kisah-kisah superhero muncul dengan solid. Dan lagi, ini semua dibesut di level produksi kelas satu blockbuster Hollywood. Di ranah black movies yang bukan hanya punya satu-dua karakter kulit hitam, Black Panther jelas merupakan pionir yang bisa mendobrak segmentasi itu.

Selebihnya adalah momentum. Bahwa era Trump memang tengah membangkitkan banyak perlawanan yang bukan saja hanya jadi urusan ras atau etnisnya, memang membuat Black Panther mendapatkan momentum yang pas untuk sebuah semangat pembaruan. Hype dari kalangan etnis dan para pendukungnya, fans Marvel yang memang jadi standar tertinggi genre superhero sekarang, wom (word-of-mouth) yang bergerak pesat lewat rekor box office minggu pembuka, jelas membuat Black Panther menjadi pemenang yang layak. Paling tidak, black movies tak lagi identik dengan treatment non-blockbusters karena persepsi-persepsi segmentasi itu sudah berhasil didobrak. 

Black lives matter, dan Black Panther sudah melakukan representasinya dengan tepat. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF