BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting

Konyol kalau hanya percaya bahwa kemudahan berbisnis identik dengan jumlah peraturan. Korupsi adalah faktor utama untuk menentukan sejauh mana kemudahan berbisnis bisa dicapai. Meski peraturan sedikit kalau dioperasikan oleh para koruptor kemudahan berbisnis hanyalah ilusi.

Hasil Pemilu tahun ini menunjukkan bahwa kemudahan berbisnis bakal makin sulit dicapai. Berbagai deregulasi yang dilakukan oleh pemerintah bakal sia-sia karena dimainkan oleh para koruptor. Hasil Pemilu tersebut menunjukkan bahwa rakyat tidak menganggap korupsi sebagai kejahatan luat biasa. Mayoritas bahkan mungkin menganggap korupsi bukan kejahatan.

Lihat saja, dalam Pemilu kali ini berita-berita tentang korupsi oleh politisi terbukti tak berpengaruh pada popularitas Parpol. Parpol peraih suara tertinggi adalah yang kadernya paling banyak terlibat korupsi yaitu PDIP dan Golkar.

Kenyataan ini tentu saja juga menunjukkan bahwa dukungan kepada KPK sesungguhnya sarat dengan kemunafikan. Inilah mengapa para koruptor berpegang pada pepatah 'Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu'. Apalagi belakangan ini, sebagaimana diungkapkan oleh ICW, pengadilan makin bersahabat dengan koruotor. Konyolnya, vonis paling ringan justru yang dijatuhkan oleh para hakim Agung.

Dalam sistem dimana politisi sebagai pemegang kendali, tak sulit untuk menebak para birokrat korup pelaksana peraturan bakal kian gendut. Reformasi birokrasi ibarat 'makin jauh panggang dari api'. Apa boleh buat, kursi legislatif dan eksekutif didominasi Parpol-Parpol yang kadernya paling banyak terlibat korupsi.

Tak kalah menyedihkan adalah banyak ana muda yang juga abai terhadap masalah korupsi sehingga mereka menjadi energi utama Parpol-Parpol paling korup. Pemimpin dan vokalis Nirvana tentu prihatin melihat kenyataan ini dan kalau masih hidup tak mau manggung di Indonesia. "Tugas anak muda adalah melawan korupsi," katanya. (pso)

 

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020