BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior, Pengamat Budaya
Bukti Mental Bangsa Kita Pengemis

Melihat fenomena seni tradisional dipakai mengamen, saya melihatnya bangsa kita mentalnya jadi pengemis. Artinya, semua cara dilakukan demi mengemis. Para pelakunya ini tidak memikirkan melestarikan kesenian dan lain-lain.

Saya tinggal di Ciawi, Bogor di mana setiap kali saya pulang ke rumah di saat weekend, saya melewati simpang Ciawi-Gadog, tempat perlintasan orang Jakarta ke Puncak, para weekender. Begitu ada keramaian kendaraan macet dan lain-lain, "pengemis" yang telah jadi mental sebagian besar bangsa kita, luar biasa banyaknya--dengan berbagai modus.

Berbagai modus itu artinya mereka benar-benar mengemis. Ada kaum difabel (cacat tubuh) yang sebenarnya membahayakan diri sendiri, banyak juga laki-laki usia produktif yang berjualan makanan. Sebenarnya kan itu ada perdanya. Itu dilarang kan? Lalu ada juga pengamen yang bergaya punk. Macam-macam. Termasuk boneka, badut, ondel-ondel, maupun kuda lumping adalah varian itu semua.

Nah, ketika ondel-ondel, kuda lumping, atau barongsai dipakai mengamen, itu justru memerosotkan gengsi kesenian kita. Harusnya itu dilarang, menurut saya. Jangankan kesenian kita, kalau misalnya bosnya Walt Disney ke Indonesia dan di perempatan ia melihat ikon-ikon milik Disney seperti Mickey Mouse, Goofy, sampai Donald Bebek dipakai menari-nari di tengah jalan sambil ngemis, mereka bisa mencak-mencak.

Dan kalau soal mengemis ini bukan ranah kebudayaan. Ini ranahnya dinas sosial. Yang harus bertindak Dinas Sosial di masing-masing daerah. Ini penyakit sosial. Sebagai penyakit sosial untuk teknis operasionalnya sudah ada perda memberantas gepeng (gelandangan dan pengemis), ya pakai itu saja. Instrumen hukumnya sudah ada. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus