BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Butuh Rekonsiliasi Nyata, Bukan Citra

Istilah teroris di Indonesia semakin buming setelah peristiwa bom Bali I dan II yang menyisakan banyak penderitaan secara fisik maupun psikis.

Ada kesan umum yang keliru seolah olah terorisme itu hanya dilakukan oleh orang-orang dengan keyakinan tertentu, itu salah besar !!. Terorisme bisa dilakukan oleh orang yang memiliki keyakinan apa saja dengan motivasi yang berbeda-beda, bisa karena agama, budaya, ekonomi, politik dan faktor-faktor lain yang sangat variatif. Rasa fanatisme yang tidak diimbangi dengan ilmu atau pengetahuan yang cukup, bisa membuat seseorang berfikir radikal dan ujungnya menjadi teroris. Karena itu upaya pencegahan melalui deradikalisasi menjadi penting.

Gagasan rekonsiliasi mempertemukan narapidana terorisme (napiter) dengan korban terorisme (penyintas) yang diinisiasi oleh BNPT merupakan salah satu upaya untuk mencegah terulangnya aksi terorisme. Pertemuan itu tidak boleh berhenti di forum, tapi harus dilanjutkan dengan program kampanye nyata pencegahan terorisme atau deradikalisasi secara bersama.

Semua itu bisa terwujud apabila proses deradikalisasi kepada para napiter sudah dilakukan dan hak-hak penyintas juga diberikan. Tentu kesadaran bersama antara para pihak untuk bertemu menjadi syarat yang mutlak. Tanpa kesadaran itu maka forum pertemuan yang sangat baik dan keren hanya menjadi "pencitraan" pihak-pihak yang berkepentingan saja dan tidak akan mendapatkan rekonsiliasi yang nyata (rekonsiliasi akal-akalan).

Karena itu diperlukan kehadiran negara dalam menjamin keselamatan masyarakat melalui regulasi yang  baik. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)