BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Komnas Pengendalian Tembakau
Cukai Naik adalah Win Win Solution

Dari sudut pandang tobacco control, penyederhanaan tarif cukai itu sangat penting. Indonesia memiliki tingkat tarif cukai terbanyak di dunia: 12 lapis, sekarang disederhanakan menjadi 10 tingkat. Idealnya dilakukan penyederhanaan menjadi dua tingkat, yaitu tarif sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret kretek mesin (SKM). Saat ini yang terjadi adalah SKT punya beberapa tingkat dan SKM juga punya beberapa tingkat. SKT tetap dipertahankan karena menyerap tenaga kerja.

Tarif cukai SKT yang menyerap lebih banyak tenaga kerja dikenakan tarif cukai yang lebih kecil, sementara tarif cukai untuk SKM lebih besar; biaya produksi lebih rendah dan penggunaan tenaga kerja juga lebih sedikit.

Adanya penyederhanaan tarif cukai akan secara otomatis berpengaruh pada pengendalian konsumsi. Jika ada 10 lapis tarif cukai maka perokok yang tadinya mengkonsumsi rokok dengan tarif A (paling mahal) misalnya, jika tarif cukainya naik, maka dia akan berpindah memilih yang B (yang lebih murah) yang tarif cukainya lebih rendah. Ini akan terus terjadi jika tarif cukai terlalu banyak sehingga tidak berpengaruh pada pengendalian konsumsi karena perokok akan terus cari yang lebih murah, bukannya berhenti. Perlu diingat lagi, fungsi utama cukai adalah pengendalian konsumsi. Sementara,  jika tarif cukainya disederhanakan, misal pilihannya hanya dua, maka perokok akan menjadi lebih mudah memutuskan berhenti merokok karena harganya mahal.

Kenaikan tarif cukai akan menjadi win win solution. Dari sisi pemerintah akan menaikkan pemasukan untuk negara sementara dari sisi tobacco control (pengendalian konsumsi produk tembakau) akan membantu pengendalian konsumsi rokok. Ketika cukai rokok naik, tidak serta merta akan membuat industri rokok mati. Di seluruh dunia, tidak ada satu pun negara yang cukai rokoknya naik tinggi lalu industrinya mati. Industri rokok adalah industri yang sedang memasuki senja karena masyarakat dunia semakin sadar pentingnya kesehatan. Secara alami, industri yang memasuki masa senja akan mencari celah bisnis lain yang lebih diterima masyarakat, dalam hal ini berarti produk yang tidak berbahaya (untuk kesehatan).

Indonesia adalah salah satu negara dengan harga rokok termurah di dunia, masih ditemukan rokok dengan harga Rp5000/bungkus, sehingga sangat terjangkau oleh anak-anak dan keluarga miskin yang merupakan kelompok paling rentan. Harga yang sangat murah inilah yang berkontribusi besar pada tingginya jumlah perokok di Indonesia. Sekedar informasi, jumlah perokok Indonesia merupakan yang tertinggi ke-3 di dunia dan perokok laki-lakinya terbanyak di dunia.  

Oleh karena itu, dua hal yang paling penting didorong saat ini adalah kenaikan cukai setinggi-tingginya, paling tidak 20 persen dari jumlah saat ini; dan kedua, simplification (penyederhanaan) tarif cukai rokok. Tahun lalu, Kementerian Keuangan tidak menaikkan cukai dan membatalkan penyederhanaan tarif cukai. Akibatnya, upaya pengendalian konsumsi terganggu (ingat! Cukai untuk mengendaliakan konsumsi). Karena itu, sangat penting adanya koordinasi antar-sektor (kementerian) untuk menjalankan programnya demi upaya pengendalian konsumsi rokok. Tidak hanya Kementerian Kesehatan dari sisi kuratif, tapi juga dari kementerian terkait, seperti Kementerian Perindustrian, Kominfo, Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri, dan tentunya Kementerian Keuangan. Dan koordinasi ini harus dipimpin langsung oleh Presiden sehingga ancaman terhadap generasi emas akibat epidemi penyakit (dan ekonomi) disebabkan oleh konsumsi rokok dapat dihindari. (yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan