BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Advokasi, Management dan Kebijakan Publik.
Di tengah Pemilih Agamis dan Nasionalis, Tertawalah Golput

Kalau kita lihat sejak pemilu pertama tahun1955 hingga 2014 jelas sudah terpetakan, partai nasionalis menang dari partai partai agama. Kenapa?  Pertama, di dalam tubuh partai partai nasionalispun banyak bergabung tokoh tokoh agama yang sangat berpengaruh menggaet suara grass root

Kedua, di partai-partai nasionalis pun ada underbow yang terkait dengan gerakan keagamaan sehingga faktor ini berpotensi besar masuk menggaet pemilih agamis baik tingkat atas menengah sampai di tingkat bawah. Ketiga, program partai-partai nasionalis kerap berhubungan dengan kegiatan sosial dan keagamaan  dan semakin menguatkan hubungan batin antara rakyat yang agamis terhadap partai nasionalis. 

Keempat, pengurus dan anggota parpol aliran nasionalis juga orang orang beragama (Islam, Kristen, Budha, Hindu, aliran kepercayaan). Mereka punya hubungan kuat dengan lingkungan serta keluarganya. Kelima, dari berbagai analisis sebagian para pemilih Muslim tidak mau terjebak dalam politik keagamaan. 

Keenam, kebanyakan saudara-saudara kita yang muslim tidak berminat menjadikan RI negara yang berdasarkan syariat Islam. Ketujuh, hampir seluruh rakyat Indonesia menyatakan Pancasila yang terbaik merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. 

Nah, hal-hal di atas adalah kunci kenapa parpol parpol aliran nasionalis selalu menang atas parpol parpol beraliran agama. Namun, yang perlu diperhatikan oleh parpol-parpol nasionalis adalah menjaga moral, kewibawaan, dan martabat parpolnya untuk kepentingan anak bangsa dan negara. Jika banyak tokoh parpol yang telibat korupsi, narkoba atau membuat program dan kebijakan yg tidak populer di mata rakyat, maka citra parpol akan rontok, mengakibatkan floating mass (masa mengambang). Celah ini yang biasanya berada di golongan kelas menengah, intelektual, dan yuppies Muslim.

Ketika golongan tersebut kehilangan kepercayaan pada parpol nasionalis, maka pilihan mereka adalah: satu, parpol beraliran agama, dua golput (tidak memilih sama sekali ). Jika ditanya berapa persentase floating mass itu bisa lari, analisa saya bisa sampai 40 persen. tapi apakah 40 persen ini bisa digarap oleh parpol parpol agamis, ini tergantung cara, strategi, dan pendekatan mereka. 

Namun, apa di tubuh parpol-parpol agamis tersebut tokoh-tokohnya, pengurus dan anggotanya bebas korupsi, narkoba dan selalu berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat? Kalau hal ini belum maksimal dilakukan angka pemilih  floating mass akan menuju ke golput. Maka jika ada yang membuat Partai Golput tertawalah kalian ha ha ha ha ha... (cmk)
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF