BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Akuntan dan Ekonom
Dolar dan Ekonomi Popularitas

Nampaknya shutdown Amerika pada awal 2018 ini hanya merupakan konspirasi popularitas Donald Trump sahaja. Pasalnya, shutdown diumumkan tanggal 19 Januari tengah malam dan  tanggal 23 Januari pemerintahan Amerika sudah mulai berjalan seperti biasa. Secara logika, tidak mungkin shutdown akan berlangsung lama karena ekonomi Amerika sedang mengalami perbaikan dengan ditandai menguatnya indeks harga saham dan penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran. Apabila shutdown berlangsung lama, maka hal itu akan meningkatkan risiko investasi di Amerika sehingga mengakibatkan suku bunga naik. Tentunya kenaikan suku bunga cukup berkontradiksi dengan ekonomi dalam negeri Amerika yang sedang berkobar dan membutuhkan uang beredar yang lebih banyak. Amerika perlu keadaan dalam negeri yang lebih stabil untuk menerbangkan perekonomiannya lebih tinggi.

Biasanya, ada dua cara seorang pemimpin meningkatkan popularitasnya di kancah Internasional. Yang pertama adalah dengan prestasi, yang kedua adalah dengan kenakalan. Jika dianalogikan laksana sebuah grafik, maka prestasi mempunyai grafik linier miring ke kanan atas (upright linier graphic) dengan sumbu Y merupakan popularitas, sedangkan sumbu X merupakan prestasi. Berbeda dengan prestasi, kenakalan mempunyai kurva normal yang cembung terhadap sumbu Y (normal distribution curve 50:50) yang apabila sudah mencapai titik maksimal popularitas, maka kenakalan akan menurunkan popularitas (law of diminishing perception) yang bilamana menembus kebawah titik 0 maka sungguh itu merupakan krisis kepercayaan Internasional terhadap suatu pimpinan negara.

Menurut hemat saya pribadi, popularitas yang ideal terdiri dari 75 persen prestasi dan 25 persen kenakalan. Alih alih 75:25, sepertinya Donald Trump menggunakan prinsip 55 persen prestasi dan 45 persen kenakalan yang tercermin dari pernyataan dan sikap kontroversialnya dalam tata kelola pemerintahan, khususnya dalam urusan luar negeri dengan negara-negara lain, terutama negara-negara timur tengah. Tapi tidak masalah, sebelum angka kenakalan melebihi 50 persen, kenakalan masih dapat berjalan beriringan dengan prestasi untuk meningkatkan popularitas, hanya mungkin kestabilan dunia saja yang bergejolak karena kenakalan Trump tersebut.

Kenapa dengan defisit (impor lebih besar daripada ekspor) neraca perdagangan 400 miliar ekonomi Amerika tetap kuat? Indonesia mau ikut-ikutan? Berarti defisit lebih menguatkan ekonomi begitu? Nggak takut ekonomi nasional ambrol? Dilihat dulu nilai mata uangnya. Menurut fxssi.com, nilai dolar Amerika berada pada peringkat atas 8 dunia. Bandingkan saja dengan Indonesia yang berada pada peringkat 5 dunia dari bawah. Amerika lebih banyak melakukan impor daripada ekspor karena mereka tahu mata uangnya kuat, sehingga uang mereka lebih bernilai jika digunakan membeli barang dari luar negeri yang mempunyai nilai kurs dibawah dolar. Sebaliknya, mereka juga tahu jika barang ekspor mereka relatif mahal jika diukur dengan nilai mata uang negara lain, sehingga relatif tidak kompetitif. Seharusnya negara dengan kurs rendah seperti Indonesia berfokus pada optimalisasi bahkan maksimalisasi ekspor dan minimalisasi impor. Ambil contoh China, mereka menjaga agar kurs mereka relatif rendah karena tahu mempunyai kekuatan ekspor yang dahsyat. Semakin surplus neraca perdagangan maupun pembayaran Indonesia, maka semakin kuat perekonomian Indonesia.

Tidak hanya itu, bagaimana bisa ekonomi Amerika tidak kuat jika negara-negara lain didorong secara halus untuk berkiblat pada Dolar Amerika melalui IMF dan World Bank. Bagaimana tidak berpengaruh jika IMF dan World Bank sudah menyusupkan agen-agen neoliberal yang ahli merayu pada posisi penting negara lain. Meski demikian, hubungan dengan World Bank dan IMF diperlukan juga untuk mengetahui perbandingan kondisi dan peluang ekonomi dengan negara lain, namun sangat perlu dibatasi. Apabila hubungan itu kebablasan, ekonomi berdikari Bung Karno hanya menjadi konsep indah belaka. Dolar Amerika bukan yang terbaik, tetapi yang paling berpengaruh, maka dekatilah yang terbaik. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF