BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI
Ekspor, Industri dan pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Bagian-1)

Indonesia seharusnya bersyukur karena di tengah krisis global yang mendera, perekonomian Indonesia masih terus berakselerasi di jalur yang mulus. Bahkan Indonesia kini bak gadis menawan yang tinggal menunggu matang untuk dipinang oleh banyak investor kelas kakap. Indonesia diperediksi akan matang secara ekonomi mulai tahun 2030 nanti, seiring dengan semakin ajegnya posisi Indonesia di 7 besar dunia dalam hal pencapaian ekonomi yang dikonfirmasi oleh beberapa lembaga terkemuka semisal Mckinsey, IMF dan ADB.

Hal ini semakin dijustifikasi oleh banyaknya lembaga internasional yang memberikan proyeksi positif untuk Indonesia. Riset McKinsey menyebut negara-negara di dunia membutuhkan waktu yang bervariasi untuk melipatgandakan GDP-nya sebesar dua kali lipat. Namun Indonesia masih dibayangi tekanan-tekanan yang bisa berujung pada kegagalan struktural.

Tengok saja kinerja rupiah, melemahnya rupiah belakangan ini sejatinya bisa dinisbatkan pada sebuah permasalahan struktural, yaitu melemahnya kinerja Industri yang berujung pada lemahnya ekspor. Hal ini pada gilirannya menyumbang tingginya tekanan pada neraca akun semasa (current account balance). Perlu diketahui bahwa selain tekanan regional dan global, faktor domestik juga punya peranan yang tak kalah penting.

Pelemahan rupiah bisa saja hanya symptoma dari sebuah penyakit yang telah mengakar. Naik turunnya kinerja ekspor kita dan terus diwarnainya tahun-tahun terkini dengan defisit neraca perdagangan turut menekan prospek nilai tukar di jangka panjang. Mengapa terjadi pelemahan ekspor? Jawabannya adalah minimnya kinerja industri sebagai akibat fenomena deindustrialisasi secara persisten.

Jika kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB awal tahun 2000-an sempat menyentuh angka 29 persen, alih alih bangkit dan menjadi negara industri, kini angka tersebut malah lekat tanah, tidak jauh dari 20 persen. Meminjam istilah dani rodrik, kita mengalami fenomena deindustrialisasi prematur.

Indonesia tidak bisa tidak harus bergegas untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang sudah cenderung stagnan dalam bebera tahun terakhir. Jika lengah, maka Indonesia akan terjebak dalam jebakan pendapatan menengah.

Menengok tetangga, sejatinya Indonesia belum bisa dikatakan baik. Coba lihat Vietnam, dan Filipina yang jauh melesat tumbuh hingga 7 persen. Belum lagi Thailand, Malaysia dan India yang juga tumbuh diatas 6 persen. Bahkan kita tertinggal dari singapura yang tumbuh hingga 5,2 persen. Dengan begitu, berarti Indonesia tumbuh dibawah rata-rata regional. Ada apa sebenarnya? (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF