BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali
Etika Politik dan Stigma Politik Masa Orba

Reformasi sudah berjalan 20 tahun lamanya dengan berbagai dinamika politik yang terjadi di negeri ini terutama menjelang Pilpres 2019. Parpol-parpol yang sudah mengantongi tiket untuk bertarung di 2019 sudah mulai pasang strategi guna menaikan elektibilitas papolnya masing-masing agar mampu bersasing meraih parlementry treshold, sehingga terjadinya saling serang, saling fitnah, saling kritik sudah lumrah terjadi.

Seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi karena rakyat-rakyat sudah semakin cerdas untuk dapat menilai mana parpol yang hanya hanya mencari popularitas lewat pencitraan dengan money politik, dan mana parpol yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat.

Video yang diunggah oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI)  yang berisikan kejadian pada rezim Orba,  dimana terjadi pelanggaran HAM, KKN, pembungkaman pers DAN kebebasan berfikir, adalah sejarah masa lalu yang cukup menyakitkan. Namun apa boleh dikata sejarah itu sudah berlalu dan tetap menjadi PR bangsa ini agar tidak terulang lagi. Mari buka lembaran baru untuk kita sajikan kepada anak cucu kita kelak agar tidak menjadi bayang-bayang masa Orba.

Tetapi kesalahan-kesalahan masa lalu tersebut tidak bisa dihilangkan begitu saja, tetap harus diproses secara hukum bagi yang memang benar melakukan kesalahan. Stigma politik pada masa Orba jangan juga dijadikan ajang untuk bersaing di dalam menaikan popularitas dan elektabilitas parpol, karena tidak akan berpengaruh signifikan terhadap rakyat. Saat ini rakyat sudah paham tentang hal itu melalui pengalaman secara langsung maupun melalui berbagai literasi yang membahasnya.  

Saat ini rakyat hanya membutuhkan kesungguhan dari pada elite-elite politik untuk mengelola negara ini dengan benar dan mampu menciptakan situasi yang kondusif, agar Pemilu 2019 dapat berjalan dengan aman dan damai.

Pihak-pihak yang bersengketa baik dari Partai Berkarya maupun PSI  hendaknya saling menahan diri, agar tidak terjadi benturan sesama partai baru  yang sangat membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengelola partainya masing-masing sehingga mampu bersaing di 2019. Dan jangan sampai asik berseteru, akhirnya tertinggal dari partai-partai yang sudah sattle.

Sebaiknya kedua belah pihak melakukan rekonsiliasi untuk mencari jalan damai, agar kedua belah pihak bisa konsen mengelola partainya masing-masing. Intinya saling serang dalam berpolitik tidak akan memberikan edukasi kepada masyarakat yang sudah semakin cerdas. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong