BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti di Institute For Development and Economics and Finance (INDEF)
Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan

Rekonsiliasi antara dua calon presiden yang berkontestasi di Pilpres lalu merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan pemerintahan yang akan datang. Rekonsiliasi ini diharapkan dapat meredakan ketegangan politik sehingga stabilitas domestik bisa terjaga.

Stabilitas domestik ini penting sebagai fondasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi, jangan sampai proses rekonsiliasi ini hanya semata-mata bagi-bagi kekuasaan dan pada akhirnya tidak ada pihak yang mengkritisi kebijakan dan kondisi ekonomi nasional.

Adanya kritik terhadap kebijakan dan kondisi ekonomi nasional merupakan hal yang sangat penting terlebih untuk 5 tahun ke depan. Hal ini mengingat 5 tahun ke depan adalah fondasi bagi Indonesia jika ingin keluar dari perangkap negara pendapatan menengah.

Kenapa 5 tahun ke depan adalah fondasi penting? Karena pada tahun-tahun inilah Indonesia mulai memasuki window of opportunity yaitu bonus demografi. Indonesia harus memanfaatkan bonus ini untuk keluar dari pendapatan menengah. Jika tidak, maka Indonesia akan menjadi negara tua sebelum kaya.

Untuk mencapai GNI per capita 12.055 dolar AS yang merupakan batas negara pendapatan tinggi, maka Indonesia setidaknya harus tumbuh lebih dari 7,5 persen per tahun. Namun sayangnya dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen. Pemerintah selalu menyalahkan kondisi luar negeri padahal negara lain-lain masih bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi seperti Vietnam yang bisa tumbuh lebih dari 6 persen.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar keluar dari negara pendapatan menengah, maka setidaknya pemerintah perlu berfokus kepada tiga aspek yaitu inovasi dan daya saing, penguatan ekonomi dalam negeri melalui reindustrialisasi, dan terakhir pemerataan ekonomi.

Aspek pertama adalah inovasi dan daya saing. Kunci utama suatu negara bisa keluar dari pendapatan negara menengah adalah melalui pengembangan skills, pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Namun sayangnya jika kita merujuk kepada sejumlah indikator yang berkaitan dengan aspek-aspek tersebut, Indonesia masih tertinggal. Misalnya, peringkat Global Innovation Index dimana Indonesia berada pada peringkat 85, lalu porsi anggaran belanja RnD terhadap PDB yang hanya 0,08 persen, dan struktur tenaga kerja Indonesia yang masih didominasi oleh tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan menengah ke bawah (lebih dari 80 pesen).

Aspek kedua adalah penguatan ekonomi dalam negeri melalui reindustrialisasi. Keberhasilan berbagai negara keluar dari perangkap negara pendapatan menengah tidak terlepas dari kontribusi sektor industri sebagai leading sector dan menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi. Sayangnya Indonesia masih sulit untuk mencapai reindustrialisasi. Target pertumbuhan industri yang direncanakan dalam RPJMN 2015-2019 pun semakin jauh dari realisasi.

Untuk mencapai penguatan industri dalam negeri Indonesia perlu lebih banyak menarik investasi dalam bentuk FDI. Hal ini mengingat porsi FDI terhadap PDB Indonesia adalah salah satu yang paling rendah di kawasan Asia Tenggara dimana Indonesia hanya 2,17 persen sedangkan Vietnam sudah 6,3 persen. Selain itu, sejak 2012, tren pertumbuhan investasi menurun, baik investasi domestik dan investasi asing (FDI).

Aspek penting lain yang perlu diperhatikan terkait investasi adalah kinerja investasi itu sendiri.  Salah satu yang indikator kinerja investasi adalah nilai dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan investasi yang masuk dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Artinya, berapa investasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu persen pertumbuhan ekonomi. Semakin kecil investasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu persen pertumbuhan ekonomi maka dapat dikatakan penggunaan investasi efisien.

Sayangnya ICOR Indonesia masih sangat tinggi. Jika merujuk kepada hasil perhitungan yang dilakukan INDEF, nilai ICOR Indonesia untuk 2016-2018 masih berada di angka lebih dari 6. Sangat jauh dari nilai ICOR tahun 2008 yang berada di angka 3,7.

Jika dibandingkan negara-negara lain pun ICOR Indonesia masih sangat tinggi. ICOR di negara-negara seperti Malaysia dan Filipina hanya 4,6 dan 3,7. Jadi tantangan pemerintah yang akan datang adalah bagaimana bisa menurunkan nilai ICOR agar terjadi efisiensi penggunaan investasi yang masuk dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Dalam hal ini, ada beberapa hal yang dapat difokuskan untuk 5 tahun yang akan datang. Pertama adalah terkait biaya ekonomi tinggi dari regulasi. Beberapa indikator yang bisa kita lihat adalah Ease of Doing Business (EODB) di Indonesia yang belum terlalu baik, meski peringkatnya mengalami perbaikan dari tahun ke tahun

Hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa peringkat EODB terus membaik tetapi tren pertumbuhan investasi menurun sejak 2012, baik investasi domestik dan investasi asing (FDI)? Salah satunya jawabannya adalah beberapa sumber permasalahan dari investasi belum diselesaikan antara lain korupsi, akses pembiayaan, instabilitas kebijakan, tarif pajak, regulasi pajak, tenaga kerja kurang berpendidikan, keterbatasan regulasi tenaga kerja, dan kapasitas terbatas untuk berinovasi.

Aspek terakhir dalam rangka membangun pondasi untuk keluar dari perangkap negara pendapatan menengah adalah pemerataan ekonomi. Beberapa negara yang keluar dari perangkap ini seperti negara-negara Asia Timur sudah menunjukkan bahwa pemerataan ekonomi penting sebagai modal untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah

Dalam hal ini, penggunaan dana desa untuk 5 tahun ke depan harus benar-benar dimanfaatkan agar desa menjadi tulang punggung kesejahteraan untuk semua. Dalam pemanfaatan dana desa ini perlu difokuskan pada sejumlah strategi mulai dari peningkatan produktivitas dan skala usaha, pengembangan kelembagaan dan SDM pedesaan, perbaikan supply chain dan value chain pedesaan, pengembangan kawasan perdesaan berbasis potensi sumber daya, pengembangan pembiayaan pedesaan, dan penguatan pelaku-pelaku usaha di desa. (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar