BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies
Forum Untuk Menunjukkan Kapasitas Ekonomi Indonesia

Forum IMF/WB annual meeting di Bali Oktober 2018 rasanya tidaklah upaya untuk menambah utang baru Indonesia karena forum itu sebenarnya sangat strategis buat Indonesia. Forum IMF/WB itu sendiri sebenarnya dua kali diadakan, yang pertama dulu di markas IMF. kemudian tahun berikutnya di negara-negara anggota IMF yang sekian ratus negara. Artinya kalau kita tidak memanfaatkan momentum ini nanti kita akan kebagian jadi tuan rumah pada ratusan tahun lagi.

Jadi yang pertama, itu adalah event yang langka. Perlu waktu yang lebih lama dari Piala Dunia jika kita ingin jadi tuan rumah lagi. Karena kelangkaan itu maka forum itu menjadi momen yang penting, karena forum itu dihadiri oleh para menteri keuangan dari seluruh dunia, para gubernur bank sentral dan otoritas pengawas perbankan lain di dunia. Sehingga itu memang event yang sangat strategis guna melakukan pembicaraan bilateral ataupun multilateral kepada negara-negara yang berkepentingan dengan kita, ataupun kita berkepentingan dengan mereka.

Kalau target kesepakatan dari forum yang sangat berharga itu mungkin adalah ranah kebijakan dari IMF yang tentunya tidak bisa kita intervensi. Mungkin kita bisa meningkatkan kepercayaan global terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Kemudian sebagai sarana promosi berbagai sektor ekonomi baik sektor pariwisata lalu investasi dan kemajuan infrastruktur, sehingga dunia akan melihat kita. Sehingga ini secara tidak langsung juga akan menggambarkan bahwa fundamental ekonomi kita masih baik. Kalau dari sisi kebijakan mungkin masuknya ke ranah-ranah strategis.

Dalam forum itu juga kita bisa memanfaatkan arrangement pertemuan bilateral dan multilateral antar negara. Seperti misalnya bisa melobi kebijakan Amerika Serikat agar tidak terlalu proteksionis. Karena proteksionisme yang Trump jalankan itu sebenarnya banyak dimotivasi oleh unsur politis. Hal itu harus lebih banyak dibicarakan dalam lingkup kepala negara dan gubernur bank sentral.

Kalau kita bicara cost dari pelaksanaan IMF/WB Bali Forum itu memang sangat besar. Tapi Rp1 triliun itu juga tidak hanya dari pemerintah, ada juga share dari Bank Indonesia. Itu memang satu angka yang cukup fantastis untuk menyelenggarakan satu event. Tapi kalau kita bicara benefit, maka benefitnya tidak bisa secara langsung diukur secara moneter atau satuan rupiah. Kalau ukuran benefit untuk sektor pariwisata memang bisa diukur, misalnya sektor pariwisata akan terdongkrak berapa persen. Lalu dari sisi investasi akan naik berapa persen. Itu mungkin bisa. Tapi dari satu sisi dalam jangka panjang pertemuan IMF/WB forum tersebut saya rasa ada beberapa kebijakan strategis yang bisa dimanfaatkan. Selain menunjukkan kapasitas ekonomi kita kepada dunia internasional, juga ada kebijakan-kebijakan strategis yang bisa kita manfaatkan, misalnya kebijakan perang dagang dan sebagainya yang mungkin bisa dilakukan penjajagan untuk meredam itu, dan upaya mengantisipasi lebih dalam lagi gejolak ekonomi global.

Sekarang ini saya melihat kondisi ekonomi global lebih disebabkan oleh power Amerika Serikat. Contohnya apa yang dialami oleh Turki juga karena terdampak oleh kebijakan politik AS.

Jadi, dalam jangka panjang pasti ada benefit saat ini tidak bisa diukur dalam satuan moneter. Saya harap forum IMF/WB itu selain menjadi sarana promosi kemudian bisa menjadi sarana menunjukkan kapasitas ekonomi Indonesia, juga kita harapkan forum itu bisa menjadi ajang penyatuan visi global. Selain itu bisa sebagai media dalam rangka menstabilkan kondisi ekonomi global. Jangan malah satu kekuatan besar negara tertentu bisa berdampak pada instabilitas keuangan negara lain. Artinya negara-negara di dunia harus mulai proaktif menyuarakan kepada AS agar tidak terlalu mengambil kebijakan yang proteksionis kepada negara tertentu seperti kepada China dan Turki.(pso)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF