BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua TIM Kesehatan Relawan Jokowi-Ma'ruf
GN for JATENG-1 or GN for RI-1

Bila dilihat dari sudut kepentingan politik Jenderal Gatot Nurmantyo, wacana yang dilontarkan DPC PPP solo untuk mengusung Jendral Gatot Nurmantyo (GN) menjadi kandidat calon Gubernur Jawa Tengah sebenarnya merupakan jalan keluar terbaik dari pada berspekulasi menunggu momentum politik 2019.

Sayangnya dukungan politik untuk menjadi Cagub Jateng hanya dari DPC PPP kota Solo yang notabene tidak punya kewenangan resmi mengatasnamakan PPP, Apalagi kursi PPP tidak mencukupi untuk mengusung cagub sehingga harus berkoalisi dengan partai partai lain.

Wacana tersebut bisa menjadi serius bila Partai Demokrat dan Partai Golkar mendukung sehingga syarat minimal 20 kursi bisa terpenuhi. Apalagi belakangan ini ada kabar Cikeas membutuhkan tokoh---diutamakan mantan militer --- untuk dicalonkan menjadi Jateng-1.

Memang ada pandangan bahwa wacana tersebut merupakan gimmick untuk menenggelamkan GN dalam bursa capres-cawapres 2019. Tapi menurut saya argumen kalau itu dianggap gimmick tidaklah kuat. Karena ada stereotipe bahwa tokoh militer ketika sudah tidak menjabat maka sudah tidak punya kekuatan dan namanya akan pudar. Sehingga bagi yang ingin menenggelamkan GN tidaklah perlu bersusah payah sampai sampai harus mendukung GN untuk menjadi Jateng-1.

Jadi upaya menjadikan GN sebagai Jateng-1 itu merupakan langkah mempertahankan GN tetap berada dalam orbit kekuasaan. Apalagi elektabilitas GN sebagai tokoh alternatif untuk RI-1 atau RI-2 cukup memadai.

Akhirnya semuanya berpulang pada GN, apakah wacana tersebut di atas akan dianggap sebagai gimmick dari kelompok politik tertentu untuk men-down grade GN atau malah memberi solusi dengan memberi pijakan politik agar GN tetap berada dalam orbit kekuasaan politik.

Pastinya GN mempunyai tim ahli yang pastinya juga mempunyai akses dan jejaring luas sehingga dapat membaca kecenderungan masyarakat politik dengan segala permainan dan dinamikanya. GN pasti tidak mudah untuk dijadikan obyek gimmick. Atau jangan-jangan wacana tersebut lahir dari Tim Ahlinya GN sendiri untuk test of the water.

Bagi saya terlepas dari itu semua. Dengan asumsi bahwa GN bukan merupakan "pemilik" partai politik, maka GN harus menjadi "juragan" partai politik dalam pengertian yang luas, sehingga mendapat jaminan tiket untuk menjadi kandidat RI-1.

Tapi bila menjadi "juragan" partai politik pun susah karena harus punya dukungan logistik dan finansial yang sangat banyak, maka Jateng-1 merupakan tangga pijakan yang sangat strategis. Apalagi dari sisi obyektif, ada beberapa partai politik yang tidak nyaman dengan kandidat petahana maupun dengan kandidat yang diusung oleh Gerindra, PAN dan PKS. Selain itu logistik politik untuk tempur di Pilgub Jateng relatif tidaklah besar dan masih terjangkau. GN perlu memikirkan untuk mengambil peluang tersebut.

Kesimpulannya adalah lebih baik GN merespon wacana tersebut dengan sikap positif bahwa dorongan menjadi Jateng-1 karena adanya kecintaan sebagian masyarakat politik agar GN tetap berada dalam orbit untuk kelak bisa menjadi RI-1. Entah 2019 atau di 2024.

(cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik