BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penulis buku
Hantu Perempuan Bukan Bentuk Perlawanan pada Budaya Patriarki

Hantu muncul untuk menjelaskan hal-hal yang tidak bisa dinalar, yang tidak jelas, misterius, atau ambigu. Sebagaimana kita tahu di Indonesia begitu banyak hal yang tidak jelas. Mulai dari urusan hukum hingga sosial ekonomi. Selain itu juga ketidakberdayaan. Masyarakat merasa tak berdaya dalam menjalani kehidupannya. Hantu jadi cara mudah untuk menjelaskan hal-hal yang sifatnya misteri. 

Menariknya, justru nama-nama hantu sangat jelas. Kita bisa spesifik menamai perempuan meninggal saat melahirkan dinamakan kuntilanak. Lalu, ada Suster Ngesot yang katanya suster korban perkosaan dan kakinya dimutilasi. Juga ada genderuwo, tuyul, sundel bolong yang masing-masing punya cerita sendiri. Kecenderungan itu terjadi karena masyarakat sulit menjelaskan yang terjadi di kehidupan (nyata) akhirnya beralih pada hal-hal imajinatif. 

Konsep hantu ada juga karena masyarakat kita religius. Saya pernah baca hasil peneliti Belanda tahun 2014 yang melakukan studi pada kelompok religius dan non-religius. Si peneliti menyebut konsep "iblis", "setan, "hantu", dan sebagainya. Kelompok religius terpengaruh konsep-konsep yang disodorkan itu, sementara buat yang tidak religius tidak terlalu berpengaruh. Masyarakat kita yang religius percaya pada banyak sekali hal-hal yang tidak bisa dilihat, yang gaib, antara lain hantu. Dan hal itu memang ada doktrinnya dalam agama. Misalnya ada ayat yang menjelaskan "Aku ciptakan jin dan manusia..." Maka, orang yang beriman cenderung percaya pada hantu. 

Akhirnya orang cenderung expecting melihat hantu. Terjemahan "expecting" ini bukan ingin, tapi rasa yang kita tak mau namun kita seperti menunggu (kedatangannya). Misal, ketika masuk tempat gelap, kita menduga atau expecting bakal melihat hantu. 

Hantu juga bisa diartikan sebagai hasrat masyarakat untuk keadilan. Secara nurani kita merasa ada yang salah bila melihat perempuan korban perkosaan tewas. Atau ada perempuan yang meninggal saat melahirkan karena tidak mendapat layanan kesehatan memadai. Sebagai manusia, orang terusik. Di tengah ketidakjelasan dan ketidakberdayaan ini timbul cerita-cerita hantu. 

Di sisi lain, orang senang nonton film horor karena menimbulkan thrill, perasaan deg-degan, seperti saat naik wahana roller coaster di Dufan. Kenapa senang? Kenapa terasa asyik? Sebab, orang-orang itu tahu mereka tak sedang menghadapi pengalaman berbahaya yang sesungguhnya. Nyawa mereka tak terancam. Hal ini juga menjelaskan posisi ketakberdayaan masyarakat. Cerita-cerita hantu diwariskan secara umum untuk membalaskan ketidakadilan. Namun di saat bersamaan mereka juga tahu (hantu) itu bukan ancaman yang nyata. Mereka tahu hantu hanya menakuti, tak bisa membunuh. Jadi sebetulnya, bila dibilang untuk melawan ketidakadilan, hantu perempuan kurang dari cukup. Karena sebatas itu saja perannya (menakut-nakuti). Tidak ada implikasi terhadap perbaikan untuk membebaskan perempuan dari kekerasan, misalnya.

Kondisi ini mungkin ada kaitannya dengan kekuasaan. Kebetulan kekuasaan kebanyakan terdistribusi pada lelaki. Tidak semua lelaki jahat dan melakukan kekerasan pada perempuan, namun pihak-pihak yang berkuasa cenderung melanggengkan kekuasaan. Artinya, kekuatan cerita hantu hanya di tataran (fiksi, mitos) itu saja, tidak cukup kuat melawan pihak-pihak yang berkuasa. Cerita dan mitos hanya bagian kecil. Dan mungkin juga tidak ada orang yang bersungguh-sungguh menjadikan itu sebagai mekanisme perlawanan. Cerita hantu sebatas menggelitik. Tidak ada gerakan untuk mengubah keadaan. Cerita dan mitos bisa juga diartikan untuk memelihara kemapanan.

Cerita hantu jadi jalan keluar ketika di realitas mentok. Di Indonesia, atau di budaya Timur, karena perempuan sulit mendapat jalan keluar di dunia nyata, maka solusi yang mudah lewat (cerita) imajinasi. Kemungkinan lain, hantu perempuan lahir sebagai perwujudan rasa bersalah kaum lelaki. Hantu perempuan di Indonesia muncul dari rasa bersalah kolektif masyarakat yang patriarkal.

Kesimpulannya, hantu perempuan lahir dari ketidakadilan, namun sama sekali bukan bentuk perlawanan. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF