BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Komisioner KPPU RI
Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik

Beberapa hal dapat diutarakan dalam masalah mahalnya tarif tiket pesawat dalam negeri:

Pertama, Masih mahalnya harga penerbangan maskapai yang ada saat ini diduga diakibatkan oleh terjadinya penyesuaian-penyesuaian harga yang menyebabkan hilangnya kompetisi di pasar maskapai domestik. Penyesuaian itu terlihat dari pola perubahan harga penerbangan. Satu maskapai menaikan harga, maskapai lain mengikuti dengan menaikan harga. Sebaliknya, satu maskapai menurunkan, satu lagi akan ikut menurunkan.

Kedua, Praktik penyesuaian terjadi di beberapa kasus persaingan. Penyesuaian yang tidak dikomunikasikan biasa disebut sebagai praktik price leadership. Namun, penyesuaian yang dikomunikasikan disebut sebagai "Kartel".

Ketiga, Pada umumnya, pemain di pasar akan memperebutkan konsumen melalui strategi bisnisnya. Maka jika ada satu pemain yang menaikkan harga, biasanya akan direspon oleh pesaingnya dengan cara menjaga harga atau bahkan menurunkan harganya. Strategi ini ditempuh agar konsumen dapat berpindah. Itu jika ada kompetisi di pasar.

Keempat, Mengundang maskapai asing masuk tidak akan banyak merubah keadaan saat ini. Bahkan, saat ini sebetulnya sudah ada maskapai asing yang beroperasi di Indonesia seperti AirAsia Indonesia. Namun hal tersebut tidak merubah harga dari maskapai domestik lainnya. Hal ini karena selain hanya diberikan rute domestik yang terbatas, juga terjadi diskriminasi di dalam pasar terhadap maskapai ini.

Kelima, Adanya kerjasama antara travel agent dan maskapai domestik adalah sebagai bentuk diskriminasi di dalam pasar yang membuat AirAsia Indonesia semakin tersingkirkan dan tidak dapat berkompetisi dengan pasar maskapai di Indonesia saat ini. Saat ini bisa kita lihat di beberapa travel agent yang menggunakan aplikasi, tidak ada AirAsia Indonesia. Kini AirAsia Indonesia terpaksa berjualan menggunakan platform yang mereka miliki sendiri.

Keenam, Lalu masalah grouping atau praktik joint operation dari tujuh maskapai saat ini. Seharusnya tujuh maskapai saat ini sudah cukup untuk memunculkan iklim kompetisi yang sehat, namun justru praktik grouping  ini yang berpotensi menimbulkan terjadinya upaya penyesuaian harga. KPPU perlu melihat apakah joint operation maskapai saat ini sudah legal dan apakah dapat mempengaruhi kompetisi di pasar maskapai domestik. Perlu ada audit mendalam mengenai joint operation ini.

Ketujuh, Terakhir dan yang paling penting adalah pemerintah sudah seharusnya perlu melakukan pencabutan tarif batas atas dan tarif batas bawah karena sangat merugikan konsumen.

Kedelapan, Tarif batas atas dan tarif atas bawah hanya akan membuat harga tiket mahal di off season atau musim-musim sepi. Ini akan merubah pola konsumsi masyarakat kita untuk membeli tiket penerbangan. Kita akan semakin kesulitan untuk berhemat dengan cara melakukan pembelian di bulan-bulan sebelum tanggal keberangkatan karena harganya akan tidak jauh berbeda dan cenderung masih mahal. Pencabutan tarif batas atas dan bawah juga diharapkan mampu mengembalikan pasar maskapai domestik agar semakin kompetitif. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus