BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Ekonomi Center for Information and Development Studies (CIDES)
Industri Kita Belum Optimal

Industri kita saat ini tumbuh 4,9 persen, yang sebelumnya pernah 4-4,8 persen. Kalau kita lihat negara-negara tetangga dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan industrinya yang saat ini melejit seperti Vietnam dan Malaysia, angka pertumbuhan industri mereka mencapai double digit. Industri manufaktur lah menjadi penopang utama peningkatan sektor industri mereka.

Memang, pada umumnya sektor manufaktur menjadi penopang keberhasilan industri di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga tersebut, industri manufaktur Indonesia masih tertinggal. Lantas, dengan rendahnya sektor manufaktur dan pertumbuhan industri sebesar 4,9 persen, akan muncul pertanyaan: apakah saat ini Indonesia tengah berada pada deindustrialisasi? Tentu hal ini masih debatable, baik untuk angka-angkanya maupun untuk definisi deindustrialisasi itu sendiri.

Kalau kita lihat pada kuartal ke III tahun 2017, menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini angka kontribusi industri kita di bawah 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kontribusi tersebut terbilang rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan saat ini kondisinya terus menurun. That is not a good sign. Karena kalau kita melihat indikator pertumbuhan ekonomi  dan industri di Asia Tenggara yang di tahun-tahun belakangan ini menunjukkan tren positif dengan kenaikan yang cukup signifikan. Seperti kita lihat hal tersebut dialami oleh Vietnam, Filipina dan Malaysia.

Seharusnya tren positif tersebut juga berimbas kepada Indonesia. Namun yang terjadi saat ini, pertumbuhan ekonomi kita hanya di kisaran 5 persen, dan industri kita di kisaran 4 persen. Itulah kenapa saya bilang that is not a good sign. Dengan kondisi pertumbuhan ekonomi dan industri di Asia Tenggara saat ini, seharusnya pertumbuhan industri kita bisa tumbuh dan berkontribusi terhadap PDB di atas 20 persen, minimal 25 persen.

Kalau kita lihat pada sisi ekspor kita di sektor manufaktur, seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan elektronika, kita juga ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Produk elektronika kita secara teknologi kalah dibandingkan Malaysia maupun Vietnam.

Di Malaysia, misalnya, i-phone sudah melakukan pengembangan produk dan produksi komponennya di sana. Begitupun di Vietnam, Samsung tidak hanya melakukan pengembangan produk di sana, tapi juga menjadikan Vietnam sebagai base produksi dari produk-produk andalan mereka yang kemudian disebarkan ke seluruh dunia. Banyak perusahaan-perusahaan besar Jepang juga melakukan pengembangan besar-besaran di Vietnam, karena selain tenaga kerjanya murah, pemerintah Vietnam juga memberikan insentif khusus kepada investor.

Sebenarnya, untuk saat ini pertumbuhan sektor makanan dan minuman (mamin) yang paling berkontribusi di Industri manufaktur, dengan besaran mencapai 9 persen.

Dengan pertumbuhan ekonomi kita yang sebesar 5,1 persen tersebut, angkanya linier dengan pertumbuhan industri kita yang hanya 4,9 persen. Karena korelasi yang paling kuat dengan pertumbuhan ekonomi dengan industri itu ada di sektor manufaktur. Korelasi keduanya saat ini sebesar 0,7 persen.

Pertumbuhan industri kita memang belum optimal, karena selain hanya 4,9 persen  juga tidak menyerap tenaga kerja, sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tidak menurun, dan jumlah pengangguran tetap besar. Seharusnya memang industri kita menyamai Vietnam atau Malaysia di kisaran angka 7-8 persen. Karena geliat investasi di bidang industri di Asia Tenggara saat ini cukup postif. Saat ini negara-negara di Asean cukup diminati oleh investor dengan nilai investasi yang cukup besar.  (afd)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Gejala Diabetes Pada Anak, Waspadalah

0 OPINI | 15 October 2019

Bau Rumput Bisa Hilangkan Stres

0 OPINI | 15 October 2019

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI

FOLLOW US

Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas