BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia
Investor Tak Hanya Andalkan Peringkat Daya Siang

Perbedaan pemeringkatan oleh sejumlah lembaga karena indikator yang digunakan tidak sama antarlembaga. Masing-masing institusi mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri tentang daya saing. Mungkin ada yang lebih lengkap dan yang lain lebih sedikit indikatornya. Ada juga yang memberikan bobot lebih tinggi di satu indikator tetapi lebih ringan untuk indikator yang lain. Metodologi yang digunakan berbeda-beda.

Selama ini yang lebih dikenal dalam pemeringkatan daya saing global adalah World Economic Forum (WEF), sementara IMD baru belakangan ini saja. Indikator yang digunakan oleh IMD tidak sebanyak WEF. Namun semua hasil pemeringkatan ini menjadi bahan masukan bagi investor.

Investor dalam melakukan investasi mencari leading indicator yang tidak terpaku pada indeks daya saing saja, tetapi juga easy of doing business (EODB), rating investasi S&P, Moody’s, dan sejumlah indikator lain. Namun semua itu hanya assessment awal bagi investor untuk melihat secara makro peluang berinvestasi. Secara riil mereka akan melakukan investigasi lebih lanjut, mendatangi negara yang akan menjadi tujuan penanaman modal, apakah kondusif atau tidak untuk melakukan investasi.

Pertimbangan investor sebelum berinvestasi cukup kompleks, mulai dari masalah kemudahan perizinan, insentif fiskal dan non-fiskal, kemudahan pembebasan lahan, ketersediaan tenaga kerja siap pakai, besar kecil ukuran pasar, kemudahan memperoleh bahan baku, ketersediaan infrastruktur, dan lain-lain.

Investor akan selalu mencari mana yang paling mudah dan menguntungkan bagi mereka untuk berinvestasi. Ada yang tidak terlalu mudah untuk dimasuki dalam berinvestasi seperti Indonesia, tetapi menguntungkan karena pasarnya yang besar.  Indonesia tidak mudah dalam hal perizinan dan insentif seperti yang ditawarkan negara lain, tetapi tetap diminati investor karena pasarnya yang besar.

Peringkat daya saing Indonesia dalam tiga tahun belakangan terus meningkat  seperti di WEF, walaupun tingkat kenaikannya kadang besar kadang kecil. Namun peringkat di EODB sempat turun setelah sebelumnya naik cukup tinggi dari urutan 100-an ke 72 pada 2017, tetapi pada 2018 turun ke peringkat 73. Oleh karena itu satu lembaga pemeringkat saja tidak cukup untuk menjadi bahan pertimbangan investor  dalam memutuskan berinvestasi.

Lembaga pemeringkat lebih mengambil  indikator makro, sementara investor tidak hanya melihat makro, tetapi juga mikro dan spesifik sesuai dengan kebutuhan mereka, ditambah lagi info mengenai karakteristik daerah yang berbeda.

Bisa jadi berdasarkan pemeringkatan lembaga pemeringkat menarik bagi investor karena ada peningkatan ranking,  sehingga berminat untuk berinvestasi pada tahap awal tetapi belum tentu jadi direalisasikan.  Indonesia mempunyai gap yang cukup besar antara komitmen investasi dan realisasi.  (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar