BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Israel `Test the Water` dan Gagal

Sebenarnya, turis-turis Israel sudah cukup lama berkunjung ke Indonesia. Begitu juga turis-turis Indonesia yang berwisata ke Yeruslaem, baik Muslim maupun Nasrani juga sudah berlangsung lama. Bulan Mei lalu, koran-koran Israel memberitakan orang-orang Israel boleh ke Indonesia untuk berpariwisata. 

Berita ini kemudian dikutip oleh koran di Indonesia. Ini membuat pemerintah Jokowi ketakutan, karena posisi (hubungan)-nya kurang harmonis dengan umat Islam, lalu mengambil keputusan tak memberi visa pada turis Israel ke Indonesia. Ini lalu dibalas oleh Israel dengan melarang orang-orang Indonesia, baik Muslim maupun Kristen, untuk memasuki Yerusalem. 

Masalah sebenarnya pula begini, pemerintah Israel sengaja membocorkan kesepakatan pemerintah kita dengan pihak Israel untuk saling kunjung antar wisatawan. Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan politik. Sebab, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia yang apabila Indonesia dikesankan bekerjasama dengan Israel, maka hal ini akan membuka peluang negara-negara Islam lain, seperti Malaysia dan Brunei, melakukan hal yang sama mengikuti jejak Indonesia. Kerjasama (yang semula diam-diam) ini sengaja dibocorkan untuk menguji (sikap) Indonesia. 

Karena hubungan saing kunjung ini dibeberkan ke publik, Indonesia langsung bereaksi karena kita tidak mau kecolongan dimanfaatkan oleh Israel demi kepentingan politik. Israel ini sedang test the water, menguji kita. Kalau sampai Indonesia tidak bereaksi bahwa kedua belah pihak telah bekerjasama, Israel bakal mendapatkan keuntungan. Ia ingin memperlihatkan pada seluruh dunia, ada kerjasama yang selama ini terjalin antara Israel, negeri Yahudi, dengan Indonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar.  

Indonesia tentu saja mengira Israel takkan membeberkan kerjasama saling kunjung wisatawan ini. Dan sebetulnya, sejak zaman Soeharto pemerintah kita sudah menjalin kerjasama dengan Israel yang terbatas. Misalnya, Indonesia membeli senjata Uzi buatan Israel yang dipakai Kopassus. Ada pula, kalau tak salah, kerjasama di bidang pertanian. Dubes Israel di Singapura juga sering keluar-masuk Jakarta. Pejabat kita pun diam-diam pergi ke sana. 

Nah, Israel ingin kerjasama yang meski terbatas itu diresmikan secara terbuka. Indonesia nggak mau hal itu terjadi, mengingat pertimbangan politik di Indonesia. Pemerintah tak ingin terlihat berurusan dengan
Israel karena Palestina belum merdeka dan hubungan diplomatik belum resmi terjalin. 

Akiabat larangan saling kunjung ini kita secara budaya dirugikan karena harus wisata religi ke sana terputus. Namun, kita pun tak terlalu banyak mendapat keuntungan. Jumlah wisatawan ke sana belum signifikan. Yang rugi dalam hal ini justru Israel karena kehilangan keuntungan dari segi politik. Test the water-nya Israel gagal. (ade)   

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong