BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Indef
Jemput Bola Tarik Investasi

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini adalah pertumbuhan ekonomi berkisar 5 persen, relatif sama dengan negara Asia lain seperti Thailand, India, dan Malaysia. Inflasinya relatif sama dengan India, sementara inflasi Thailand dan Malaysia relatif rendah.

Suku bunga Indonesia dan India berkisar 6 persen sementara tingkat suku bunga bank sentral Malaysia dan Thailand di level 3 persen. Defisit transaksi berjalan yang terparah dialami adalah India, kemudian Indonesia, sementara Thailand memiliki surplus transaksi berjalan.

Dengan adanya rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo, maka  yang terpenting selanjutnya adalah memperbaiki perekonomian Indonesia. Oleh karena itu diperlukan prioritas program untuk peningkatan kapasitas ekonomi. Pertama, memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Kedua, menggenjot investasi. Data menunjukkan bahwa foreign direct investment (FDI) turun 0,9 persen dari tahun sebelumnya, atau sekitar Rp 107,9 trilliun pada kuartal pertama 2019. Sebanyak 11,6 persen masih dalam posisi wait and see menunggu, investasi akan masuk jika pasca rekonsiliasi regulasi dan kondisi lingkungan bisnis memberi angin segar bagi investor baru untuk menanamkan modalnya ke Indonesia.

Adapun sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam aliran FDI yang masuk ke Indonesia antara lain transportasi, pergudangan, listrik, gas, air dan properti. Sebagian besar investasi berasal dari Singapura dan China.

Jumlah rata rata investasi FDI yang masuk pada periode 2010 - 2019 sebesar Rp76,09 triliun per tahun. Aliran FDI terbesar masuk ke Indonesia sebesar Rp112 triliun pada kuartal empat 2017 dan terkecil sebesar Rp35,4 triliun pada kuartal pertama 2010.

Untuk dapat mendorong investasi pemerintah perlu mempermudah sistem perizinan atas investasi yang akan masuk ke Indonesia. Penerapan sistem perizinan investasi baru (OSS) belum efektif karena beberapa sektor belum tersedia di OSS, format Bahasa Inggris belum tersedia, tidak ada integrasi OSS antarlembaga pemerintah.

Pemerintah juga perlu membuat website investasi yang mudah digunakan (user friendly) sehingga investor dengan mudah memperoleh semua informasi terkait dengan investasi yang akan dilakukan. Sebagai contoh,  website china investment sangat lengkap informasinya dan mudah dipahami. Melalui website ini, bisa dihindarkan ‘transaksi di luar prosedur formal’. Oleh karena itu dalam website harus ada transparansi semua informasi terkait investasi.

Strategi jemput bola akan mendongkrak investasi diawali dengan budaya quick response terhadap  pertanyaan calon investor, misalnya, merespons dengan cepat pertanyaan investor melalui email atau kontak langsung.

Membiasakan budaya melayani atau memberikan the best service quality. Investor jangan dipingpong ketika mereka menghadapi masalah. Pelayanan satu pintu harus benar-benar dilakukan oleh BKPM.

Misalnya, jika investor mengalami masalah tenaga kerja maka BKPM harus melakukan koordinasi dengan kementerian tenaga kerja agar bisa memberikan solusi atas masalah yang dihadapi investor. Seharusnya, investor tahu beres dengan BKPM, investor tidak usah berhubungan dengan kementerian teknis tapi BKPM lah yang menjadi jembatan sekaligus bisa memberikan solusi bagi investor.

Pemerintah juga perlu melaksanakan program reindustrialisasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa  deindustrialisasi antara lain terjadi karena ketidaklancaran pasokan bahan baku. Lebih dari 80 persen bahan baku produk Indonesia berasal dari impor. 

Masih ada regulasi yang menghambat investasi yakni regulasi kemudahan memberi perijinan, regulasi tenaga kerja yang rigid mengakibatkan pabrik mengadopsi sistem outsourcing

Jika ingin melakukan reindustrialisasi maka harus mengeliminasi penyebab terjadinya deindustrialisasi. Perlu langkah koheren untuk melakukan reindustrialisasi. Industri gula, misalnya, harus direvitalisasi, mengingat Indonesia sudah menjadi negara importir gula sejak  1967 sampai sekarang.

Kementerian Perindustrian menyediakan Rp 154 miliar untuk revitalisasi. Tapi dana itu seharusnya bukan hanya untuk pembelian mesin baru pabrik gula. Butuh langkah komprehensif untuk revitalisasi industri gula.

Namun revitalisasi industri berbasis tebu perlu dibarengi tiga langkah berikut ini. Pertama, peningkatan kapasitas pabrik gula membutuhkan pasokan tebu. Petani perlu didorong untuk melakukan alih fungsi lahan ke lahan tebu. Tentunya hal ini harus disertai dengan insentif yang menarik, misalnya, harga beli tebu yang menarik atau minimal sepadan dengan biaya produksi tebu, dan penyediaan kredit pra musim sebelum petani bisa memanen tebunya.

Kedua, melengkapi pabrik gula dengan teknologi tinggi sehingga produktivitas gula lebih tinggi. Rata-rata kapasitas pabrik gula sekitar 6000 TCD sampai 15.000 TCD, bisa ditingkatkan sampai dengan 60.000 TCD.

Teknologi tinggi juga diharapkan agar pabrik bisa melakukan diversifikasi produk. Pengembangan industri berbasis tebu (sugar cane industry) seharusnya didorong, sehingga industri gula bukan hanya memproduksi gula Kristal putih dan gula rafinasi. Tetapi pabrik juga bisa menciptakan berbagai produk derivative lainnya seperti molasses diolah menjadi bioethanol dan biodiesel, bagasnya diproduksi menjadi wood plastic composite (WPC).

Ketiga, implementasi kerja sama (partnership) antara pabrik gula dan petani harus ditingkatkan sehingga asupan tebu dari petani baik volume dan kualitasnya  tetap terjaga. Kerja sama bisa dilakukan dengan pelatihan bagi petani bagaimana bercocok tanam yang baik agar produktivitas tebu meningkat, kemudahan akses kredit,  kepastian untuk menampung hasil panen tebunya dan memberlakukan sistem bagi hasil atas penjualan tebu petani ke pabrik gula.

Dengan tiga langkah tersebut, swasembaga gula bukanlah mimpi yang mustahil untuk diwujudkan. Indonesia pernah menjadi produsen gula utama di dunia, dibutuhkan komitmen serius dari para pemangku kepentingan. (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar