BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
 Dosen Pasca Sarjana UNUSIA, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
Jika Dilarang Beribadah di Rumah, Umat Islam yang Rugi

Insiden di rusun Pulogebang kemarin bisa dilihat dari kajian psikologis dan sosiologis. Ini sikap arogansi keagamaan. Jadi tidak semata-mata sikap radikal. Orang ini terganggu ada orang beribadah, padahal selama ini juga banyak orang menutup jalan, banyak orang teriak-teriak lima kali sehari, sampai mengganggu orang tidur. Bahkan Subuh sudah selesai, speaker masih bunyi. Terhadap hal itu, mereka diam saja. Lah, ini kok ada anak-anak beribadah emosinya langsung naik, seolah-olah terganggu. 

Kalau dia merasa terganggu ada orang beribadah, kenapa dia tak terganggu oleh speaker yang tiap hari teriak-teriak itu?  

Kejadian kemarin bukan semata persoalan agama, tapi persoalan sentimen dan labilitas seseorang. Rasa sentimen dan faktor kekurang-dewasaannya mengakibatkan ia bertindak seperti kemarin. 

Ada beberapa hal kenapa ia melakukan ancaman kekerasan pada anak-anak yang beribadah kemarin. Pertama, bisa jadi ini paham keagamaan yang sempit dan dangkal. Dia cenderung memandang agama secara simbolik dan legal formal, sehingga sikap beragama tereduksi terhadap hal-hal itu. Kedua, faktor sosiologis. Bisa jadi ia tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan emosinya jadi labil.

Sebenarnya orang boleh ibadah di mana saja. Dan itu dilindungi undang-undang dasar kita: warga negara berhak menjalankan ibadahnya sesuai keyakinan masing-masing. Beribadah tak harus dilakukan di tempat ibadah. Kalau ada larangan beribadah di rumah tinggal, yang rugi pertama umat Islam. Bayangkan semuanya nanti harus dilakukan di masjid, tahlilan, yasinan, muludan harus di masjid. 

Orang macam ini tak memikirkan aksi balasan. Di Jakarta, Islam mayoritas. Tapi di tempat lain tak selalu begitu. Makanya saya mengatakan orang ini pikirannya sempit dan dangkal. Ia hanya melihat dirinya saja. Pikirannya saja. Orang begini perlu dididik, pikirannya diperluas dan perlu pendalaman pemikiran agar tak dangkal dan sempit. (ade) 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI