BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru, Pegiat Pendidikan Kritis
Jujur Adalah Keselarasan Antara Lisan Dan Praktek

Jujur adalah satu kata penuh makna  yang indah didengar, tetapi tidak seindah mengaplikasikan dalam keseharian. Tidak pula berlebihan, bila ada yang mengatakan “jujur” semakin langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang. Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya.

Jujur senantiasa menjadi harapan setiap orang, bahkan tidak sedikit orang berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar jujur, padahal jujur yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri dan hati setiap individu, bahkan setiap individu sesungguhnya bisa menilai dan merasakan makna jujur dalam hatinya. Jujur adalah keselarasan antara lisan dan praktik serta perilaku setiap individu yang benar-benar menjadi satu kesatuan yang utuh, satu sama lain saling menguatkan dan meyakinkan. Jika ada seseorang berhadapan dengan sesuatu atau fenomena, maka orang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. Jika orang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan realitasnya) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. Dengan kata lain seseorang dikatakan jujur, bila ucapannya sejalan dengan perbuatannya.

Jadi yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokkan antara informasi dengan fenomena atau realitas. Makanya jujur itu bernilai tak terhingga. Karena semua sikap yang baik selalu bersumber pada “kejujuran”. Merupakan suatu keindahan bila setiap individu bersikap jujur terhadap dirinya, pedagang senantiasa jujur dalam usaha dagangannya, demikian pula pemimpin yang jujur dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Dalam dunia pendidikan, jujur senantiasa sering dibahas dan disampaikan kepada segenap siswa didik dengan harapan tentunya para siswa didik mampu memahami dan mengerti akan makna jujur yang sebenarnya yang pada akhirnya dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai contoh kita dengan mudah dapat melihat dan menilai sejauh mana makna jujur yang dilakukan oleh para siswa didik dalam pelaksanaan tes/ujian. Semua siswa tentunya berharap mendapatkan nilai yang maksimal yang akan membuat mereka senang dan bahagia. Padahal nilai bukanlah segala-galanya apalagi didapat dari sikap-sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran itu sendiri. “Jujur sudah tentu benar, tetapi kebenaran belum tentu jujur”. (fai)

 

 

 

 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF