BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior
Ke Mana Sikap Politik Kelas Menengah Muslim?

Sejak November 2016 yang lalu, tiba-tiba jagad politik dan hubungan antar anak bangsa di negeri ini terguncang hebat oleh “Kasus Surat Al Maidahnya Ahok”. Apa itu pertanda maraknya kelompok Islam Radikal - Salafi – Takfiri? Hemat saya, tidak.

Kasus Surat Al Maidah Ahok, jika dicermati dari info-info berbagai media sosial sejak awal 2016, adalah akumulasi emosi yang lalu meledak dipicu tergoresnya deep feeling, perasaan terdalam masyarakat. Luka hati akibat ketidakadilan, kesenjangan sosial ekonomi, tebang pilih penegakan hukum, arogansi dan keberadaban penguasa. Kasus itu antara lain Taman BMW, Rumah Sakit Sumber Waras, juga penggusuran tak manusiawi yang jauh panggang dari api dibanding janji-janji kampanye Cagub Jokowi – Ahok.

Mengapa Al Maidah yang jadi Casus Belli? Hemat saya, ada tiga hal. Pertama, orang boleh berdebat, suara umat Islam tidak satu namun terbagi dalam berbagai aliran, mazhab dan organisasi. Tapi sejarah menunjukkan, bila keyakinan akan tauhid, keesaan Tuhan, kemuliaan Nabi Muhammad Saw, kebenaran Al Qur’an dilecehkan, maka mayoritas umat Islam akan menanggalkan perbedaannya, bangkit bersatu melawannya.

HOS Tjokroaminoto guru para tokoh pergerakan nasionalis, komunis dan Islam, sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota”, membuktikan itu. Tatkala Kanjeng Nabi Muhammad awal 1918 dilecehkan sebuah artikel majalah “Jawi Hisworo” yang terbit di Solo. Umat Islam marah. Tanggal 17 Februari 1918, Tjokro membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad Saw - TKNM di hampir seluruh Jawa dan sebagian Sumatera melibatkan 175 ribu orang lebih. Jumlah yang luar biasa besar semasa itu.

Perihal solidaritas dan hubungan sesama muslim, hendaklah dipahami hadis Nabi Muhammad Saw ini: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan kasih-mengasihi adalah seperti satu tubuh, yang apabila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh lainnya ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam”.

Kedua, terasa ada divisi kekuatan yang tak terlihat yang lazim terjadi dalam Perang Semesta Global atau Perang Asymetris.  Yang coba menghancurkan Indonesia dengan mengobarkan konflik horizontal berbasis SARA.  Mengadu  umat Islam dengan non Islam, yang ditandai antara lain dengan merebak secara luar biasa berbagai framing berita dan informasi-informasi hoax. Mirip keadaan sekitar tahun 1964/1965, yang kadar dan variannya  sekarang ini lebih dahsyat dan canggih.

Ketiga, era keterbukaan menunjukkan secara terang-benderang berbagai ketidakadilan dan kesenjangan sosial ekonomi, perilaku tak terpuji para elite politik, dan lemahnya penegakkan hukum. Demokrasi yang berlangsung dirasakan sebagai demokrasi prosedural yang semu dan hanya milik pengusaha-penguasa.

Bagaimana kemudian sikap kelas menengah muslim yang 112 juta orang sebagaimana digambarkan Watyutink? Cobalah perhatikan secara seksama siapa yang meramaikan berbagai mall di kota-kota besar?  Itulah mereka. Kelas menengah muslim yang terdidik, yang bisa membaca angka statistik dan berbagai indikator sosial ekonomi. Kaum urban professional muslim yang menerapkan gaya hidup Islami dalam keseharian mereka dengan wawasan pergaulan luas, menghargai pluralisme dan kemanusiaan. Namun, akan berbalik menjadi militan bila kepercayaan dan ketauhidannya dilecehkan. Inilah pada hemat saya, yang harus dipahami oleh para politisi dan patriot-patriot bangsa Indonesia.*                       

(Yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF