BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Kebanyakan Tidak Tahan Godaan Kekuasaan

Elite politik Indonesia sama dengan elite seluruh dunia semuanya pakai resep Brutus-Ken Arok-Machiavelli 3-in-1. Jadi tidak usah heran atau ber-wishful thinking bahwa elite Indonesia itu malaikat dan ksatria, sportif dan gentlemen

Semua ada egonya dan saling salip di tikungan secara brutal, tidak etis dan menghalalkan segala cara.  Dan memang manusia kan bukan dewa, nabi atau malaikat, kebanyakan tidak tahan godaan kekuasaan dan bisa berubah sifat karakter, sebelum dan setelah menggenggam kekuasaan, akhirnya hukum karma akan berlaku dan dijatuhkan secara tidak pilih kasih oleh Tuhan Yang Maha Kuasa seperti berakhirnya kekuasaan Soekarno dan Soeharto dalam 53 tahun pertama RI 1945-1998.  

Dalam tempo 32 tahun kita seolah berjalan di tempat tidak mampu meningkatkan kualitas industrialisasi dari substitusi impor menjadi industri yang berdaya saing global. Birokrasi Indonesia sudah jadi pemburu rente, dan pengusaha yang dilindungi dengan sistim KKN Orde Baru, menjadi “manja” dan tidak berdaya saing global tidak mampu mengekspor dan memupuk surplus devisa. 

Kita harus back to basic. Harus saber pungli, harus ubah birokrat dari pemburu rente, jadi pemberdaya (steward).  Karena itu birokrasi harus digaji yang tepat agar menjadi pelayan masyarakat awam dan investor, agar ICOR kita turun dari 6,4 jadi 2,3. Pengusaha yang diberi kemudahan NIB Nomor Izin Berusaha Tunggal, tidak perlu menunggu berbulan-bulan dan beaya tidak jelas yang menambah nilai ICOR mengakibatkan kita tidak berdaya saing. 

Jadi ini kampanye anti koruptor dan juga terpidana lain seperti kriminal membunuh orang dan seterusnya tentu harus jalan terus. Kalau tidak ya percuma saja kampanya tentang Revolusi Mental. Sebab itu harus dipraktikkan dengan kinerja delivery dan bukan dengan indoktrinasi atau penataran model Kader Nasakom atau Manggala P7 zaman Orla dan Orba.

Zaman Reformasi, butuh praktik, contoh soal dan itu yang diberikan oleh Presiden. Sayangnya itu tidak dilakukan secara simultan, massif dan terstruktur. Seluruh birokrasi terutama, justru ujung tombak, ibarat  resepsionis di ujung kantor yang melayani administrasi masyarakat awam. Birokrasi harus bermental steward dan bukan pemburu rente. Kalau itu terjadi niscaya Indonesia tidak perlu ketinggalan dari RRT, yang baru membangun 1979 sejak Deng Xiao Ping kembali ke teori pasar karena gagal Marxisme 30 tahun. Sedang Soeharto sibuk membangun sejak 1967 hanya menemukan dirinya terpuruk 1998. 

Jer basuki mawa bea tetap berlaku kapan saja, dimana saja, dan rezim apa saja. Anda harus produktif, kreatif, proaktif dan berinisiatif dan menghasilkan yang tangible infrastruktur maupun yang intangible, rezim dan sistem pelayanan masyarakat yang memberdayakan masyarakat.  

Kalau mau sulap sihir dan “mukjizat” tidak mungkin bisa terjadi, sebab Tuhan tidak akan memberkati orang yang korupsi dan menindas HAM rakyatnya sendiri dengan pelbagai alasan konyol dan berapi api, seperti elite yang gonta-ganti posisi. UUD digonta-ganti, sistem pemilu digonta-ganti, semua tujuannya untuk melanggengkan kekuasaan agar orang lain susah. Seperti judisial review tentang presidential threshold kan semuanya berbasis agenda subyektif oposisi terhadap incumbent. Tapi percayalah Tuhan tentu lebih cerdas dari elite. (ade)

Catatan: Disarikan dari artikel "WIBK KHUSUS 59 TAHUN DEKRIT 5 JULI", 5 Juli 2018 berupa wawancara imajiner penulis dengan Bung Karno. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF