BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sekretaris Dewan Pakar PA GMNI
Kebebasan Kampus Sebuah Keniscayaan dalam Iklim Demokrasi

Dalam iklim demokrasi kebebasan kampus adalah suatu keniscayaan yang tidak boleh di intervensi, selama  untuk pengembangan kehidupan  science/akademis dan tidak untuk kepentingan politik praktis. Namun pada masa Orba dengan alasan menormalkan kehidupan kampus (NKK/BKK), pemerintahan Orba melakukan intervensi  agar mahasiswa tidak melakukan kritik apapun terhadap diktator Orba dengan pelarangan  ekstra organisasi mahasiswa berkiprah di kampus. Sehingga terjadi  pembunuhan kreativitas, hilangnya kemampuan kepemimpinan, jiwa interpreuner dan luntunya semangat nasionalisme.selama puluhan tahun

Saat ini dengan perkembangan arus informasi dan teknologi  secara bertahap, mampu melakukan perubahan opini  dalam diri mahasiswa maupun masyarakat  untuk melawan pemerintahan yang otoriter dan menindas. Sehingga terbangun era reformasi diawali kejatuhan pemerintahan Orba. Tetapi kiprah ekstra organisasi mahasiswa seperti kelompok Cipayung dan Somal tetap masih dilarang, belum boleh masuk kampus. Hal ini  yang menyebabkan bisa masuknya organisasi tersebut adalah pencerahan beragama, yang awalnya melalui masjid terdekat dan dilakukan oleh dosen-dosen yang punya kemampuan dan inipun memberi ruang untuk masuknya ideologi trans nasional.  Sedangkan  Pancasila sebagai landasan Negara dan konstitusi RI tidak ada yang mensosialisasikan atau  mempelajarkan/ mendiskusikan kecuali di 1-2 fakultas. 

Jadi wajar saja dalam lebih dari sepuluh tahun  berkembang secara intensif, massif dan terbangun di 7 perguruan tinggi negeri  ternama kelompok mahasiswa/ dosen yang anti Pancasila dan ingin merobah konstitusi RI. Syukur hal ini  segera diantisipasi  dengan keluarnya Permenristekdikti untuk membolehkan ekstra organisasi mahasiswa melakukan kegiatan ekstra kulikuler kembali di kampus. Dengan Permen ini diharapkan mahasiswa bisa mengapresiasikan kemampuan berdebat mengenai kehidupan bernegara berpemerintahan, bisa merekrut  kawan-kawan mahasiswa untuk melakukan study club membangun kreativitas membangun jaringan, leadership karena merekalah yang harus dipersiapkan menjadi pemimpin bangsa ke depan.

Juga mereka secara otomatis akan mensosialisasikan dan memberi pencerahan, mengkaji pemikiran dan berdebat dengan argumentatif sebagai  pengejawantahan budaya Intelektual dalam alam demokrasi.  Dasar Negara dan konstitusi yang harus menjadi batasan kebebasan berserikat berkumpul mengeluarkan pendapat, karena hal ini adalah rambu-rambu hasil konsensus para founding father yang tidak boleh dilanggar.    

Bila Pancasila sebagai Dasar Negara dan ideologi bangsa, serta Konstitusi dilanggar, artinya bila ada yang tidak setuju dengan Pancasila dan NKRI maka mereka harus dicabut Hak Kewarganegaraannya dan jadi Stateless, dan itu adalah pilihan. Selain itu, bila pemahaman ini bisa disosialisasikan oleh kelompok ekstra organisasi mahasiswa. Terhadap kawan-kawan mahasiswa lain maka sedikit  gerakan radikalis, intolerans, dan ideologi transnasional yang berbahaya bisa menyebabkan disintegrasi bangsa akan bisa disadari  dan dihindari. 

 Jadi masuknya organisasi extra kulikuler mahasiswa ke dalam kampus sangat diperlukan. Semoga mampu  mengurangi dan menyadarkan kelompok-kelompok radikalis dan intoleran di kampus. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF