BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengusaha, Mantan Anggota DPD RI, Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS)
Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan

Tinjauannya, kalau sistemnya dengan cost recovery, sepanjang itu sama dengan perjanjian yang ada, maka tidak masalah. Jangan sampai ada perbedaan. Kalau ada perbedaan dengan sistem yang ada, itu patut dipertanyakan.

Ihwal berlarut-larutnya negosiasi kontrak kerjasama, itu karena pihak Jepang saja yang tidak serius, karena mereka juga sedang membangun beberapa proyek serupa di Australia, yang bersamaan waktunya dengan Blok Masela, maka Blok Masela yang dimundurkan.

Sementara akibat pihak Jepang yang terlambat, maka periode kontraknya menjadi berkurang kemudian pihak jepang meminta tambahan. Mestinya ketika itu ada kesempatan bagi pemerintah untuk mengikutkan Pertamina misalnya 10 persen atau 15 persen sharing. Jepang bisa diberi perpanjangan waktu tapi BUMN  Pertamina harus turut serta. Jadi Jangan asal kita memberi saja, tapi mereka pun pasti merekayasa supaya tidak terburu-buru mengeksplorasi, karena mereka memiliki pekerjaan lain di Australia dan mungkin juga di tempat lain.

Kalau soal kearah mana keberlanjutan operasi Blok Masela tidak terlalu masalah, asal harga jual dan kebutuhan dalam negeri juga terpenuhi. Jangan sampai nanti ketika sudah berproduksi, masalah gas Indonesia masih harus mengimpor juga. Sebaiknya hasil produksi blok Masela diprioritaskan untuk dalam negeri dulu. Kebutuhan gas dalam negeri harus diutamakan, kalau tidak, maka berarti kita tetap dibohongi juga, atau ada pihak yang bermain-main dengan impor gas.

Polemik onshore atau offshore, justru dari besaran biaya ketika hitung-hitungan jaman Rizal Ramli, lebih murah di darat atau Onshore. Jika memang dihitung secara objektif hitungan di darat lebih murah, pilihlah yang darat. Oleh karena itu kemudian diputuskan di darat. Kita harapkan tidak ada hal-hal yang disembunyikan dan jangan ada manipulasi.

Mengenai kontrak memang biasanya hanya sampai 20 tahun, tidak diketahui persis kenapa dan dengan pertimbangan apa, kontrak 30 tahun langsung diberikan. Hal ini yang harus dipertanyakan juga. Seharusnya dibuat berdasarkan Undang-undang yang ada yaitu selama 20 tahun dulu dan kemudian nanti ada perpanjangan. Jika kontrak untuk 20 tahun dulu, maka kita bisa memasukkan Pertamina sebagai pemegang saham. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar