BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia
Kelas Menengah Muslim Kita Cari Aman

Pilihan politik kelas menengah Muslim kita terkait dua hal. Pertama, pragmatisme kepentingan. Menengok sejarahnya, kemunculan Syarikat Islam (SI) lahir dari sentimen dagang, antara Muslim pedagang batik dengan Cina pedagang batik di Solo, Jawa Tengah. Waktu itu masalahnya persaingan ekonomi. Tapi mereka melihat sentimen keagamaan efektif buat menggalang solidaritas antar pedagang. Maka, dipakailah nama Syarikat Dagang Islam, yang lalu berkembang jadi SI tanpa menekankan soal dagang lagi..

Di periode-periode yang lain pun sama polanya, menyelamatkan kepentingan ekonomi di luar agama. Namun, tetap menggunakan simbol-simbol agama.

Kedua, sentimen rasial. Sentimen ini tak bisa hilang. Dari zaman dulu kita punya masalah antara kaum pribumi dengan pendatang. Saat Ahok muncul di Pilkada DKI sentimen rasial itu ada.  

Rasionalisme kelas menengah Muslim terletak pada pragmatismenya. Ketika bersikap pragmatis, berarti masih menggunakan rasio yang benar menurut mereka. Tapi sifat anti-Cina tidak rasional. Sikap anti pada yang lain itu tak rasional, tapi sifat nature yang salah yang selalu dipelihara. 

Saya yakin, kelas menengah Muslim ini tidak mengidentifikasi dirinya dengan kelompok Muslim radikal. Kelihatan sekali saat umat Islam demo 411 atau 212. Yang kelas menengah di belakang (barisnya), yang didorong di depan itu massa yang lebih luas. 

Kalau kelas menengah Muslim ini dibilang hipokrit, ya memang demikian. Karena tujuan mereka: kepentingan tak terganggu. Secure secara ekonomi. Mereka menggunakan simbol-simbol Islam, ketika dianggap populis. Mereka tak memberi kontribusi yang vokal bagi gagasan keislaman. Misalnya, membentuk negara Islam. Sifat ini sangat khas Indonesia. Jadi, kalau sampai Indonesia jadi negara Islam seperti zaman Nabi Muhammad hidup di Madinah, saya kira mereka ogah juga. 

Yang dikejar Kelas menengah Muslim semata demi kepentingannya saja. Bahkan merambah ke urusan ibadah. Misal, ritual sholat Duha, puasa Senin-Kamis, atau bersedekah, tujuannya mengejar dunia agar dimudahkan rezekinya. Bahkan ada hitung-hitungan bersedekah sekian dipercaya dapat balasan rezeki sekian. Alasan bersedekah bukan lagi berderma atau bekal di kehidupan akhirat. Tapi, kehidupan sekarang di dunia.  

Di 2019 ketika isu sektarianisme dianggap bisa mewakili kepentingan kelas menengah Muslim, saya pikir isu ini akan tetap digunakan. Namun yang harus dilihat andai nanti kelompok ini kalah dalam persaingan politik. Mereka akan mudah berubah mengakomodasi kekuasaan berikutnya yang eksis saat itu.

Mereka bisa langsung berbanding terbalik dari sebelumnya. Menjadi amat sekuler, mungkin. Contohnya bisa kita lihat dari perubahan Orde Lama ke Orde Baru. Begitu Soeharto mengharamkan politik partisan, kelompok-kelompok garis keras yang ada di Masyumi dan kelompok Islam yang lain dengan serta merta mengubah pandangan. Mereka masuk ke Golkar (partai pemerintah Orba--red) yang sekuler. Semua demi menjamin kepentingan politik dan ekonominya tetap berlangsung.

Akhirnya pada masa itu kelompok Islam modernis pecah. Ada yang masih bertahan dengan idenya dan jadi radikal. Dan ada yang mengikuti ideologi pembangunan-nya Soeharto. Label agama mereka tinggalkan. Lalu muncul Nurcholis Madjid dari kalangan ini, dengan adagium "Islam, Yes. Partai Islam, No". Itu terminologi dari kelas menengah Muslim yang akomodatif pada kekuasaan (waktu itu di tahun 1970an).

Kelompok NU agak terlambat mengakomodasi itu. Yakni pada 1980an, ketika Gus Dur menerima azas tunggal. (Ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF