BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti LIPI, Pengamat Politik 
Kelas Menengah Muslim Paham 4 Konsensus Dasar Negara

Dalam konteks pilkada, politik itu opsi-opsi dan seni kemungkinan di mana konteks memegang peran penting. Isu yang bergulir deras waktu Pilkada DKI Jakarta adalah penistaan agama. Isu ini menimbulkan pembelahan pilihan yang tajam, karena terkait langsung dengan rasa ketidakadilan. Elit dan aktor berperan penting dlm meruncingnya isu agama tersebut.

Masalahnya bukan hanya isu agama saja yang menyeruak, tapi rasa ketidakadilan memunculkan empati kolektif warga masyarakat dan atau komunitas-komunitas, termasuk kelas menengah Muslim.

Masalah krusialnya bukanlah kelas tersebut risih atau tidak risih berada dalam satu atap dengan kelompok radikal. Tapi perasaan kolektif warga Muslim akan ketidakadilan dan atau kezoliman yang "dipertontonkan petahana (Ahok)", yang dinilai telah menistakan agama Islam. Isu krusialnya bukan masalah suku/etnisitas, tapi agama. Hal ini sangat serius bagi pemeluknya.

Kelompok menengah Islam sudah sangat paham dengan 4 konsensus dasar negara; Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka juga memahami dengan seksama bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila. Umat Islam sudah sepatutnya menunjukkan umat yang Islami atau masyarakat yang Islami. Tak ada yang salah dengan prinsip ini.

Terlalu jauh mengasosiasikan masyarakat islami yang menjalankan aqidah secara baik dan benar, dengan model Taliban di Afghanistan. Apalagi jika ditarik makin jauh lagi seperti ISIS. Asumsi tersebut sesat dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan, karena tidak didasarkan atas ihwal empirik atau scientific evidence yang reliable. Islam di Indonesia adalah rahmatan lilalamin dan memiliki kekhasannya sendiri. Karena itu, tidak perlu diidentikkan dengan Taliban dan ISIS.

Apa kelas menengah Muslim hipokrit? Hipokrit tidak hipokrit, sangat individual, mengacu pada sifat personal. Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan memperbaiki akhlaknya. Menyeimbangkan antara duniawi dan ukrowi bukan pekerjaan ringan. Ada muslim yg berhasil dan ada yg kurang berhasil menjalankan aqidah Islam. Perilaku hipokrit itu yg mestinya terkikis, bila aqidah dilaksanakan secara konsisten. 

Sejarah politik dan pengalaman pemilu yang berlangsung selama ini, menunjukkan bahwa pola perilaku pemilih cukup variatif. Pemilih acapkali moody secara politik dan kontekstual, dipengaruhi oleh isu-isu aktual. Artinya, tidak bisa disimpulkan secara simplistik dan gegabah, apakah pilihan kelas menengah Muslim akan berlabuh ke partai Islam atau moderat atau nasionalis.

Pada dasarnya politik aliran sudah cair. Sistem multi partai relatif bisa jadi kanalisasi kendati ideologi partai makin kabur karena lebih mengesankan tak ada beda antara satu partai dengan partai lainnya. Bahkan partai-partai yang katanya berbasis Islam, malah lebih OK berkoalisi dengan partai-partai berbasis nasionalis, ketimbang dengan sesamanya.

Mestinya yang dipersoalkan saat ini dan ke depan, bukannya hanya mempertanyakan pilihan kelas menengah Islam akan berlabuh ke mana. Tapi perlu dipertanyakan pula apakah parpol di negeri ini memiliki tanggung jawab penuh dalam mengusung calon pemimpin yang OK, yang secara integritas dan substansi/kualitas tak bermasalah. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF