BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pemerhati Air bersih Muara Angke, Pendiri Yayasan Rumpun Anak Pesisir Muara Angke
Komersialisasi Air Bersih Berdampak Pada Pendidikan

Air adalah hak asasi seluruh masyarakat. Sayangnya, air masih dibeli di Muara Angke, Jakarta Utara. Air bersih untuk sebagian orang masih sangat sulit dijangkau. Air yang mereka gunakan belum aman karena untuk mandi dan cuci mayoritas masih pakai air sungai dan air genangan banjir rob yang tercemar limbah. Pemakaian air yang tidak steril ini menyebabkan penyakit kulit seperti gatal-gatal pada kulit.

Di wilayah ini, juga air masih sulit dijangkau karena masih harus membeli dengan harga yang lumayan mahal bagi ukuran warga nelayan yang mayoritas miskin. Warga Muara Angke khususnya nelayan tradisional yang mayoritas miskin malah semakin sangat sulit membiayai sekolah anak-anak mereka. Artinya air bersih berdampak untuk masa depan generasi Muara Angke, yakni pemenuhan kebutuhan pendidikan. Saya pernah berbincang dengan keluarga nelayan yang tidak mampu menyekolahkan anaknya karena untuk makan sehari-hari saja mereka sangat kesulitan, beberapa kali mereka hanya makan buah mangrove karena tidak mampu membeli beras. Kita tahu dengan jelas buah mangrove itu racun, tetapi keluarga tersebut mengelola agar racunnya mati, ini sungguh tragis.

Banyak anak-anak yang terpaksa menahan malu karena dimarahi guru dengan alasan tidak sanggup bayar uang sekolah. Ada juga yang belum bisa menebus ijazah di sekolah karena ketidaksanggupan membayar iuaran sekolah seperti biaya ujian nasional bahkan banyak anak-anak usia 9 sampai 14 tahun masuh buta huruf karena belum pernah sekolah. Melalui kasus-kasus pendidikan seperti ini, dapat disimpulkan kondisi semakin memprihatinkan dengan biaya kebutuhan membeli air bersih yang mahal bagi ukuran warga nelayan tradisional miskin yang tinggal di bantaran kali Adem dan sekitar pesisir Muara Angke. Air yang menjadi kebutuhan pokok tidak mereka miliki.

Jika anak merengek meminta melanjutkan sekolah, orangtua akan beralasan “air saja kita tidak ada, bagaimana mau sekolah?”. Akhirnya, masalah air berdampak ke segala lapis kehidupan masyarakat Muara  Angke.

Salah satu alasan pihak pemerintahan untuk mengabaikan hak warga menerima fasilitas seperti pengadaan air bersih semata karena area abu-abu atau masyarakat Muara Angke banyak yang tidak terdaftar secara administratif menjadi alasan utama warga tidak dipedulikan. Lantas, kenapa warga yang tidak dianggap ini selalu dimanfaatkan untuk meraup suara pada setiap perhelatan politik? Jadi dalam hal ini ada ketidakkonsistenan. 

Kurangnya perhatian dari pemerintah membuat kami dari Rumpun Anak Pesisir membuat terobosan melakukan penggalangan dana  untuk memberi air bersih pada masyarakat Muara Angke, meskipun lingkupnya masih beberapa RT, tetapi kami sudah memulai. Upaya ini kami lakukan karena melihat air bersih menjadi salah satu kebutuhan mendesak warga nelayan Muara Angke. Selain itu, kami juga ingin memberitahu pada semua orang terutama pemerintah bahwa kita bisa berbuat sesuatu membuat perubahan dengan hal-hal kecil dengan bergandengan tangan bersama, tanpa embel-embel administratif. Air adalah persoalan kemanusiaan. Dimana titik kemanusiaan kita?

Di Muara Angke, kamar mandi hanya bilik seadanya untuk mandi.  Pemilik rumah panggung biasanya mebuang hajat langsung ke kamar mandi tanpa MCK tersebut, sehingga kotoran akan jatuh ke kolong rumah dan akan hanyut ketika rob datang. Kondisi sanitasi seperti ini tentunya sangat rentan dengan kesehatan warga khususnya anak-anak memandikan air rob yang sudah tercemar kotoran tadi.  Ironisnya air tersebut  digunakan untuk mencuci pakaian dan piring. 

Saya dengan tegas menyatakan jika memang kampung nelayan merupakan daerah abu-abu yang tidak diakui secara administratif sehingga tidak bisa mengalirkan air bersih ke setiap rumah warga, idealnya pihak terkait bisa menyalurkan air bersih ke setiap gang untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Ke titik-titik yang administratif saja tidak apa- apa, tetapi sampai saat ini belum ada gerakan terkait hal ini. Indonesia negara perairan, tetapi warganya masih membeli air. Air sudah dikomersilkan di sana. (win)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF