BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Kontestasi Ekspor Global Regional

Ya, kita boleh melakukan macam-macam upaya, tapi hasil akhir kinerja berupa angka ekspor yang masih lemah kalah oleh tetangga seperti Viernam membuktikan bahwa kita ini cuma jago rumahan kalau bersaing dengan tetangga. Kalah keok terseok-seok.

Suatu nation state negara bangsa bersaing melalui totalitas Japan Inc., Korea Inc., Taiwan Inc., Singapore Inc., China Inc., Hongkong Inc., bahkan US Inc., Nah kita ini gagal menciptakan suatu Indonesia Inc., karena sistem logistik Nusantara pada tahun 1957 lenyap pasca mengambil alih nasionalisasi KPM (perusahaan pelayaran Belanda), berakibat tarif interinsuler Nusantara menjadi termahal seantero bumi.

Ongkos angkut jeruk Pontianak ke Jakarta kalah murah ketimbang ongkos jeruk Mandarin dari Shanghai ke Jakarta. “Hopo Tumon?”. Ini telah berlangsung sebagai fakta selama 62 tahun sejak “hantam kromo” nasionalisasi KPM karena Pelni tak sanggup mewarisi dan melanjutkan efisiensi jaringan Regular Liner Service.

Baca buku “The Indonesian Inter Island Service Industry”, akan tampak betapa “hantam kromo”nya pengambil alihan KPM malah menjadi semacam “bunuh diri” oleh nation state Indonesia.

Masalah korupsi dan pajak serta fakta kesenjangan antara ekonomi legal faktual dan ekonomi "black"juga sulit terbuktikan, Misalnya isu pajak yang heboh gaduh, biasanya cuma “hangat-hangat tahi ayam” seperti kasus Gayus. Maka ekonomi Indonesia sebetulnya punya "pembukuan" yang ganjil dan ajaib karena memang yang legal tercatat dalam APBN tapi yang koruptif tentu tak tercatat. Tapi pengusaha dan masyarakat tetap harus mengeluarkan uang tambahan diluar yang tercatat dalam pembukuan formaI. Itu bisa miliaran atau triliunan, bisa dihitung "jutaan transaksi pungli " dan korupsi.

Maka kita punya ICOR 6,4 tertinggi di dunia. Untuk tumbuh 1 persen perlu investasi 6 koma 4. Maka itulah yang perlu dinihilisasi/dilenyapkan. 

In a nation pledged to Unity in Diversity, few industries could be more important than interisland shipping. Yet, since independence, problems plaguing interisland shipping have continued, despite the rehabilitation and modernization under the New Order Government. This book tries to understand the problems in terms of the conflict between market forces and government regulation. In the process it sheds light not only upon the industry but also upon an important aspect of modern Indonesian history, upon the nature of the business firm in Indonesia, and upon the formulation and implementation of government policy. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF